• Beranda
  • Artikel
  • Riset Publik
  • Kearifan Lokal sebagai Media Pendidikan Karakter Antikorupsi pada Anak Usia Dini Melalui Strategi Dongkrak

Kearifan Lokal sebagai Media Pendidikan Karakter Antikorupsi pada Anak Usia Dini Melalui Strategi Dongkrak

Penelitian ini menjelaskan Dongkrak (Dongeng jeung Kaulinan Barudak) sebagai strategi pendidikan karakter antikorupsi pada anak usia dini. Strategi Dongkrak menggunakan dongeng dan kaulinan untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran, disiplin, kerja keras, tanggung jawab, dan rendah hati pada anak usia dini.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelas yang mendapat strategi Dongkrak memiliki hasil yang signifikan dalam memahami nilai-nilai karakter tersebut. Oleh karena itu, strategi Dongkrak dapat digunakan untuk mengajarkan pendidikan karakter bagi anak usia dini.

PENDAHULUAN

Bangsa Indonesia pantas merasa prihatin dengan munculnya fenomena korupsi, tren korupsi tersebut terindikasi dari perkembangan jumlah kasus dan tersangka korupsi selama periode 2010—2014. Berdasarkan data yang dirilis dari laman kompas.com, pada 2010, jumlah kasus korupsi yang disidik kejaksaan, kepolisian, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencapai 448 kasus. Pada 2011, jumlahnya menurun menjadi 436 kasus dan menurun lagi pada 2012 menjadi 402 kasus. Namun, pada 2013, jumlahnya naik signifikan menjadi 560 kasus. Pada 2014, jumlah kasus korupsi diperkirakan akan meningkat lagi mengingat selama semester I tahun 2014 jumlahnya sudah mencapai 308 kasus (kompas.com, 2014). Perkembangan jumlah kasus korupsi linier dengan jumlah tersangka korupsi. Pada tahun 2010, jumlah tersangka korupsi mencapai 1.157 orang, kemudian cenderung menurun pada 2011 dan 2012. Namun, pada 2013, jumlahnya meningkat signifikan menjadi 1.271 orang dan diperkirakan bertambah lagi pada 2014.

Korupsi sebagai perbuatan yang melawan hukum, merugikan negara dan masyarakat, bertentangan dengan moral memiliki berbagai bentuk. Bentuk-bentuk korupsi di antaranya adalah perbuatan melawan hukum, memperkaya diri orang/badan lain yang merugikan keuangan/perekonomian negara, penggelapan dalam jabatan, pemerasan dalam jabatan, tindak pidana yang berkaitan dengan pemborongan, dan delik gratifikasi. Peningkatan kasus korupsi menohok untuk mempertanyakan kembali hakikat tujuan dari pendidikan. Tujuan utama pendidikan adalah membentuk pribadi menjadi lebih baik. Atas dasar itulah, pendidikan karakter semakin digalakkan.

Pendidikan karakter akan lebih efektif jika dilakukan sejak usia dini. Penanaman nilai-nilai antikorupsi seperti kejujuran, disiplin, kerja keras, tanggung jawab, dan rendah hati sebaiknya dilakukan sejak dini. Jika nilai-nilai itu disampaikan sejak usia dini, nilai-nilai tersebut akan menjadi bagian dari diri seseorang, bukan hanya pengetahuan semata. Ini berguna untuk membangun manusia Indonesia yang antikorupsi mulai sejak dini. Tidak hanya bersifat instant dan temporal seperti yang terjadi sekarang.

Masa usia dini adalah saat yang tepat dalam pembentukan pondasi kehidupan seperti penanaman nilai karakter. Namun demikian, dunia anak usia dini adalah bermain dan kesenangan. Penanaman nilai dan stimulasi yang dilakukan tentu harus dengan strategi yang menyenangkan bagi anak, seperti bermain dan bercerita.

Terkait dengan aktivitas bermain, Vygotsky (1962) dalam Agustin memandang bahwa bermain merupakan variabel penting bagi kegiatan bermain anak, terutama untuk kepentingan pengembangan kapasitas berfikir. Lebih lanjut, bahkan Vygotsky sampai pada suatu hipotesis bahwa perkembangan perilaku moral anak juga berakar dari aktivitas bermain anak, yakni pada saat anak mengembangkan empati serta memahami peraturan dan peran kemasyarakatan. Aktivitas-aktivitas bermain anak yang bernuansakan dua hal tersebut, yaitu empati serta peraturan dan peran kemasyarakatan memfasilitasi proses berkembangnya perilaku moral pada diri anak (2008: 63—64). Permainan tradisional dapat digunakan untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang baik, seperti permainan congklak (nilai kejujuran), ucing sumput (tanggung jawab), bebentengan (kerja keras), perepet jengkol (kerjasama), kastik (disiplin) dan permainan eggrang (sikap rendah hati).

Penelitian ini memperkenalkan strategi Dongkrak (Dongeng jeung kaulinan antikorupsi keur barudak). Dongeng dalam strategi dongkrak ini menggunakan dongeng singkat yang menggunakan basa Sunda. Adapun kaulinan adalah permainan tradisional masyarakat Sunda. Hal ini dilakukan sebagai bentuk membudayakan warisan lokal, khususnya bahasa sunda dan permainan pasundan yang inhern di dalamnya pendidikan karakter dan moral anak.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif dan kuantitatif atau campuran (mixed method), yaitu suatu penelitian yang mengkombinasikan antara metode penelitian kuantitatif dan kualitatif (Creswell, 2008). Dalam kerangka penelitian ini, desain yang digunakan adalah studi embedit (embedded design). Desain ini merupakan metode penelitian yang mengombinasikan penggunaan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif secara simultan, tetapi bobot metodenya berbeda. Pada model ini, ada metode primer (untuk memperoleh data utama) dan sekunder (untuk mendukung data yang diperoleh dari metode primer).

Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam mixed method ini menurut Creswell (2008: 567) ada tujuh tahap. Pertama, menentukan apakah metode gabungan layak dilakukan. Kedua, mengidentifikasi alasan penggunaan metode gabungan. Ketiga, mengidentifikasi strategi pengumpulan data yang berkaitan dengan (1) prioritas yang akan diberikan pada data kualitatif dan kuantitatif, (2) urutan pengumpulan data, jika tidak merencanakan pengumpulan data secara bersama. Keempat, mengembangkan pertanyaan kuantitatif, kualitatif dan metode penggabungan (mixed method). Kelima, mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif. Keenam, menganalisa data secara terpisah atau bersama. Ketujuh, penulisan laporan.

mixed methodGambar: Tahapan Proses Mixed Method (Sumber : Creswell, 2008: 568)

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama, pengumpulan data kualitatif. Pengumpulan data ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang berkaitan dengan bagaimana strategi Dongkrak untuk pendidikan antikorupsi anak usia dini. Teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tahap kedua, pengumpulan data kuantitatif. Pengumpulan data ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian bagaimana karakter antikorupsi anak usia dini yang diajar menggunakan strategi Dongkrak dengan anak yang diajar dengan strategi tradisional. Maka teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi mendalam, dan kuesioner.
Analisis data kualitatif menggunakan teknik interaktif (Miles dan Huberman, 1985: 21). Analisis data kuantitatif dimulai dengan pengujian validitas, reliabilitas, normalitas, dan terakhir uji t-test untuk melihat perbedaan karakter antikorupsi antara anak usia dini yang diberikan treatment dengan anak yang tidak diberikan treatment. Seluruh pengujian dianalisis dengan bantuan SPSS 21.

PEMBAHASAN DAN HASIL

Lickona (2013: 81) mengatakan bahwa karakter terdiri atas nilai operatif, nilai dalam tindakan. Nilai dalam tindakan tersebut dibangun atas tiga bagian yang saling berhubungan, yaitu pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral. Oleh karena itu, Lickona (2013: 82) menegaskan bahwa karakter yang baik terdiri atas mengetahui hal yang baik, menginginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik.

Pada hakikatnya, tujuan dari pendidikan adalah membuat seseorang memiliki kepribadian yang baik. Moral, akhlak, atau karakter adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Bukan hal yang tidak mungkin, jika pendidikan karakter antikorupsi mulai dapat dilaksanakan sejak tingkat PAUD. Karakter-karakter antikorupsi yang diutamakan untuk dikenal dan dihayati sejak usia dini di antaranya adalah kejujuran, disiplin, kerja keras, tanggung jawab, dan rendah hati.

Karakter kejujuran yang dapat diajarkan berupa hubungannya dengan manusia, seperti tidak menipu, tidak berbuat curang, atau tidak mencuri. Tanamkan ketiga karakter tersebut sebagai salah satu cara dalam menghormati hak-hak orang lain juga. Karakter disiplin perlu ditanamkan untuk membentuk diri yang tidak selalu mengikuti keinginan hati yang dapat merendahkan diri dan merugikan orang lain. Disiplin diperlukan untuk mengejar keinginan yang positif dalam kadar yang sesuai.

Keinginan yang positif dapat dikejar dengan kerja keras, bukan dengan jalan pintas. Makna proses dalam meraih sesuatu itulah yang perlu diperkenalkan pada anak sejak usia dini. Selanjutnya, sikap tanggung jawab diperlukan juga dalam proses meraih keinginan. Tanggung jawab memiliki nilai menghargai diri dan orang lain. Terakhir, karakter rendah hati perlu ditanamkan juga sebagai karakter antikorupsi pada anak. Nilai-nilai rendah hati yang dapat ditanamkan adalah tahu posisi diri, tidak mengambil hak-hak milik orang lain.

Pendidikan karakter dapat disampaikan dengan berbagai metode yang menyenangkan untuk anak, tanpa perlu menggurui atau menekankan pesan-pesan. Strategi Dongkrak adalah salah satu cara yang efektif mengajarkan pendidikan karakter untuk anak usia dini. Strategi Dongkrak akronim dari dongeng jeung kaulinan keur barudak. Dalam bahasa Indonesia berarti dongeng dan permainan untuk anak-anak. Dengan dongeng dan permainan, konsep lima kepribadian antikorupsi dapat disampaikan pada anak usia dini tanpa perlu memaksakan pesan moral atau menjejali nilai-nilai yang abstrak. Selain itu, dengan strategi dongkrak, anak diperkenalkan pada kearifan lokal. Dalam hal ini adalah kearifan lokal Sunda.

Dongeng berbahasa sunda dan kaulinan merupakan metode penyampaian karakter yang berbasiskan budaya. Di era sekarang, budaya banyak ditinggalkan, orang-orang lebih berbondong-bondong memilih berbagai hal yang berbau teknologi dan kebarat-baratan, sehingga anak-anak saat ini banyak yang tidak mengetahui budayanya sendiri. Oleh sebab itu, penelitian ini difokuskan untuk menyatukan dongeng dan kaulinan untuk mengenalkan karakter pada anak.

Dalam sepanjang sejarah kehidupan anak-anak, belum pernah ada satu anak pun yang tidak senang dengan cerita, dongeng, kisah atau sejenisnya. Atas dasar ini, cerita bisa di¬angkat sebagai media membangun karakter anak (Subiantoro, 2012: 100). Begitu pula dengan kaulinan atau permainan, anak-anak sangat menyukai berbagai kegiatan dilakukan dengan melibatkan fisik mereka. Rousseau (1712—1778) yakin bahwa aktifitas fisik sangat penting dalam pendidikan anak-anak. Anak harus belajar dari pengalaman langsung seperti yang ia gambarkan dalam ungkapan “ ...our first teachers are our feet, our hands and aur eyes, ...to substitute books for all these...is but to teach us to use the reasons of others...”. Sejalan dengan itu, Carl Rogers (1942: 7) juga menekankan pentingnya faktor pengalaman dalam proses belajar di samping pengetahuan yang diperoleh anak dalam pembelajaran kognitif. Oleh karena itu, strategi dongkrak memadukan antara dongeng dengan kaulinan anak-anak.

Berdasarkan hasil penelitian Ahyani (2010: 29), perbedaan tingkat pencapaian kecerdasan moral anak usia prasekolah yang belajar dengan dongeng dan yang tanpa dongeng. Kelompok anak yang mendapatkan penyampaian nilai-nilai moral melalui metode dongeng memiliki tingkat kecerdasan moral yang lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak mendapatkan penyampaian nilai moral melalui metode dongeng. Rata-rata kelompok yang mendapatkan metode dongeng adalah 17,47%, sedangkan rata-rata kelompok yang tidak mendapatkan metode dongeng 14,41%.
Kaulinan atau permainan tradisional adalah suatu hal yang berhubungan dengan bermain yang sifatnya turun temurun atau warisan nenek moyang. Jadi dapat disimpulkan permainan tradisional atau kaulinan adalah suatu permainan warisan dari nenk moyang yang wajib dan perlu dilestarikan sebagai bagian dari proses perkembangan anak (Nugroho, 2005: 24—25).

Selain disukai anak, dongeng dan kaulinan sesuai dengan ciri khas belajar anak usia dini. Brunner (1990) menerangkan cara belajar anak usia dini: pertama, masing-masing anak adalah individu yang unik pola dan perkembangan anak dalam belajar anak bisa berbeda satu dengan yang lain. Kedua, anak tidak belajar dari simbol sebanyak dia belajar dari pengalaman kongkret. Ketiga, anak perlu belajar untuk menggunakan tubuhnya, anak yang mempraktekkan gerakan-gerakan cenderung untuk memperoleh kepercayaan diri dalam kemandirian. Keempat, anak belajar dari anak lain dan juga orang tua dan guru. Kelima, anak belajar secara bertahap (Sholehudin, 1997: 47). Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti menjadikan dongeng dan kaulinan barudak sebagai strategi penyampaian pendidikan karakter antikorupsi pada anak yang meliputi karakter kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerjasama, dan cinta tanah air.

Strategi Dongkrak (Dongeng jeung Kaulinan Antikorupsi keur Barudak)

Strategi Dongkrak untuk pengajaran pendidikan karakter ini dilakukan pada siswa PAUD kelompok B. Dongeng dan kaulinan yang dipilih disesuaikan dengan lima nilai karakter baik yang hendak ditanamkan.

Tabel: Dongeng dan Kaulinan yang Digunakan

Karakter yang Hendak Ditanamkan Jongeng/Kallinan
Kejujuran Monyet Kaleungitan Cau
Sondah dan Congklak
Disiplin  
Kasti
Tanggung Jawab Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet
Ucing sumput dan Bancakan
Kerja Keras Mumu Anak Maung Diajar Moro
Boy-boyan
Kerja Keras Sakadang Maung jeung Beurit
Enggrang

a. Kejujuran

Untuk menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam karakter jujur, dongeng yang disampaikan pada anak-anak adalah dongeng yang berjudul “Monyet Kaleungitan Cau”. Guru melakukan pembacaan cerita/storytelling dengan menyiapkan hal-hal visual berupa pisang dan boneka monyet. Hal ini untuk memfasilitasi anak yang membutuhkan visualisasi untuk menyimak sesuatu.
Dongeng berjudul “Monyet Kaleungitan Cau” menceritakan keluarga monyet yang terdiri atas Ibu dan tiga orang anaknya. Sang Ibu membawa empat pisang ke rumah. Rencananya akan dibagikan nanti kepada ketiga anaknya. Namun, Motmot anak bungsu tidak dapat menahan keinginannya memakan pisang yang dibawa Ibunya. Motmot pun mencuri pisang tersebut. Ketika hendak membagikan pisang kepada anak-anaknya, Ibu monyet sadar ada satu pisang yang hilang. Dia bertanya pada anak-anaknya. Motmot merasa takut dan khawatir Ibunya akan marah atas perilaku mencuri yang dilakukannya.

Di leuweng aya keluarga monyet. Indung monyet jeung tilu anakna.
Poe eta , indungna monyet mawa cau ka imahna. Aya opat cau nu baradag.
Cau nu arasak. Matak anak monyet kacida pisan kabitaeunna.
Ibu monyet moal waka ngabagikeun cau. Eta cau rek ditunda heula.
Motmot anak monyet pang leutikna, kacida kabita. Motmot ngadeukeutan eta cau sabot anak monyet nu lain keur sarare. Keur kitu kedewek wae hiji cau didahar ku Motmot.
Saacan rek dibagikeun indung monyet ngitung jumlah cau. Indung monyet nyaho cauna ngurangan hiji.
“Barudak, saha nu geus ngadahar cau?” Tanya indung monyet.
“Henteu.” Jawab anak-anak monyet.
Motmot degdegan sieun oge kanyahoan.

Anak-anak monyet sangat menginginkan pisang tersebut.
Akan tetapi, Ibu monyet belum akan membagikan pisang-pisang tersebut.
Pisang tersebut hendak disimpannya terlebih dahulu.
Motmot Si anak monyet paling kecil sangat menginginkannya.
Manakala saudara-saudaranya sedang tidur, didekatinya pisang-pisang tersebut.
Motmot mengambil salah satu pisang tersebut.
Ketika hendak dibagikan, ibu monyet menghitung jumlah pisangnya.
Ibu monyet tahu pisangnya berkurang satu.
“Anak-anak, siapa yang sudah makan pisang?” tanya ibu monyet.
“Tidak”, jawab anak-anak monyet.
Motmot berdebar-debar merasa takut ketahuan.

Dongeng tersebut menunjukkan dua sikap perilaku tidak jujur, yaitu mencuri dan tidak mengakui kesalahan. Mencuri dalam dongeng ini ditunjukkan dengan sikap mengambil barang tanpa izin. Mengambil barang tanpa izin merupakan perilaku mencuri yang sering kali dianggap sepele. Oleh karena itu, dengan dongeng ini, anak dapat memahami konsep mencuri salah satunya adalah mengambil barang tanpa izin seperti yang dilakukan tokoh Motmot.

Perilaku tidak jujur lainnya yang diajarkan adalah tidak mengakui kesalahan. Saat Ibu monyet menyadari ada pisang yang hilang, Motmot tidak langsung mengakui kesalahan. Hal ini dapat mengajarkan anak, bahwa kejujuran dapat menjadi solusi sebuah permasalahan. Apapun yang dilakukan dan dikatakan harus mengandung kejujuran di dalamnya.
Untuk mengajarkan karakter kejujuran yang terdapat pada dongeng ini, selain guru membacakan dan memvisualisasikan, cerita ini juga perlu melibatkan anak. Guru memilih secara acak anak yang akan memerankan tokoh-tokoh yang terdapat pada cerita.

Dengan melibatkan anak-anak pada setiap adegan dongeng, anak-anak dapat merasakan secara langsung perasaan cemas dan merasa bersalah ketika mengambil barang tanpa izin. Dengan memvisualisasikan, anak-anak pun dapat mencerna tindakan secara konkret yang termasuk kepada mengambil barang tanpa izin walaupun dilakukan pada ibu sendiri.
Penanaman nilai kejujuran dilanjutkan dengan memperkenalkan permainan sondah dan congklak. Dalam permainan sondah, kejujuran diajarkan dengan keinginan mengakui atau tidak apabila langkah menginjak garis saat bermain sondah atau tidak. Begitu pula dengan congklak. Dengan memperkenalkan congklak, anak-anak belajar untuk jujur pada diri sendiri mengenai biji-biji congklak yang dimiliki.

b. Disiplin

Kaulinan kasti diperkenalkan untuk menanamkan nilai disiplin pada anak. Kasti seperti halnya olah raga lainnya yang memiliki aturan tertentu yang wajib untuk dipatuhi tiap pemain. Salah satu aturan dari kasti adalah berpindah tempat setelah mendapatkan bola.
Kasti mengajarkan bahwa disiplin ketika berpindah tempat dapat menentukan hasil yang diperoleh. Ketika seorang anak terlambat atau tidak cekatan berpindah tempat, maka kemenangan akan sulit untuk diperoleh. Oleh karena itu, tanpa perlu banyak penjelasan, anak dapat memahami bahwa disiplin akan membawa mereka pada hasil yang diharapkan. Selain itu, anak pun dikenalkan dengan konsep konsekuensi.

Selama satu minggu setelah permainan kasti dilakukan, guru akan terus mengulas hal-hal penting dari permainan kasti, yaitu kedisiplinan, konsekuensi, dan prestasi harian yang diperoleh dari disiplin. Satu buku khusus akan dipegang setiap anak untuk dilihat perkembangan pemahaman tentang konsep disiplin. Buku khusus disiplin itu berisi hal-hal yang dapat dilakukan anak dalam kehidupan sehari-hari, seperti bangun tidur tepat waktu, sarapan dengan tertib, mengerjakan PR di rumah, dan membaca buku di rumah selama 10 menit.
Semua tindakan itu diarahkan agar anak memperoleh prestasi kecil harian. Bangun tidur tepat waktu akan memperoleh prestasi masuk sekolah tidak terlambat. Sarapan dengan tertib akan memperoleh prestasi di sekolah tidak lemas. Mengerjakan PR di rumah akan memperoleh prestasi di sekolah dapat belajar dengan baik. Membaca buku selama 10 menit di rumah mendapat prestasi mengetahui berbagai informasi dari buku. Jadi, anak diperkenalkan pada konsep disiplin sekaligus apresiasi apa yang akan diperoleh dari sikap disiplin.

c. Kerja Keras

Dongeng “Mumu Anak Maung Diajar Moro” menceritakan Mumu anak harimau yang belajar berburu dari Ibunya. Mumu mudah menyerah. Oleh karena itu, Ibunya selalu menekankan Mumu untuk terus berusaha dan sabar.

Mumu, anak sakadang maung keur sare. Sakali-kali indungna mere daging.
Dina hiji wanci, kasorenakeun Mumu diajak indungna kaluar ti guha, sayangna. Indung Mumu lumpat bari dituturkeun ku Mumu.Beuki peuting Mumu ngarasa lapar.“Ma, lapar”
Peuting eta, Mumu diajar moro keur kadaharanna.
“Ma, cape. Balik yu” Ceuk Mumu.
“Hayu kudu diajar moro. Jep, lalaunan, cing sabar..” Mumu jeung indungna taki-taki rek muru mangsana.
“Udag...eta kadaharan maneh” Ceuk indungna.
Mumu lumpat saketerekebek. Gerewek wae anak babi teh digegel.
Mumu, si anak harimau sedang tiduran.
Sekali-kali, ibunya memberi dia daging.
Di suatu sore, Mumu diajak ibunya keluar dari gua, sarangnya.
Ibunya berlari sementara Mumu mengikutinya.
Hari semakin malam di dalam gua.
“Bu, lapar”. Kata Mumu yang perutnya keluyukan.
Malam itu, Mumu diajak berburu untuk makanannya.
“Bu, cape, pulang Yu.” Ceuk Mumu.
“Ayo...harus belajar berburu.” Bujuk ibunya.
“Hups, pelan, sabar.”
Mumu dan ibunya bersiap memburu mangsa.
“Kejar...itu makananmu.” Kata ibunya.
Mumu berlari kencang.
Babi itu segera diterkamnya.

Nilai-nilai karakter kerja keras diungkapkan oleh tokoh Ibu Harimau saat tokoh Mumu mudah menyerah apabila gagal mendapat buruan. Motivasi yang diberikan Ibu Harimau menyatakan bahwa segala sesuatu harus ada usaha. Hasil yang baik akan diperoleh apabila telah bekerja keras dan sabar menghadapi kegagalan dan tantangan.
Membacakan dengan keras, memvisualisasikan, dan melibatkan anak masih digunakan juga dalam membacakan cerita yang mengandung karakter kerja keras. Namun, untuk menanamkan karakter kerja keras, dongeng ini pun harus dapat dianalogikan pada hal-hal yang berada di sekitar anak-anak.

Hal-hal yang diterapkan berdasarkan karakter kerja keras pada dongeng adalah menanam bunga di halaman sekolah dibantu guru. Anak dibagi per kelompok untuk dapat menanam bunga yang dipilih masing-masing kelompok. Guru akan mengapresiasi terhadap capaian masing-masing kelompok. Dari menanam bunga, anak akan paham kenapa Mumu harus belajar mencari mangsa sendiri. Ketika bunga yang ditanam dengan baik dan dirawat dengan telaten, akan menghasilkan bunga yang mekar dengan sehat. Hal ini sebagai tanda pada anak, hal yang ditanam akan menentukan hasil yang diperoleh. Bunga yang mekar dengan indah bergantung pada kerja keras saat menanam dan merawatnya.

Kaulinan yang dapat diperkenalkan untuk mengajarkan kerja keras adalah boy-boyan. Dalam permainan boy-boyan, anak-anak diajarkan usaha yang tekun merupakan bagian dari kerja keras. Salah satunya ditunjukkan dengan tanda kemenangan permainan boy-boyan adalah salah satu kelompok mampu membangun kembali gundukan genting seperti pada awalnya sebelum dihancurkan oleh bola.

d. Tanggung Jawab

Nilai-nilai dari karakter tanggung jawab ditanamkan dengan dongeng “Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet” dan kaulinan ucing sumput. Dongeng menceritakan kisah tokoh Monyet yang tidak bertanggung jawab ketika menghabiskan pisang-pisang milik tokoh Kura-kura. Oleh karena itu, Monyet pun mendapat pelajarannya dari Kura-kura.

Sakadang Kuya kacida atoh lantaran tangkal cau anu dipelakna geus buahan. Sihoreng sakadang monyet nyahoeun yen tangkal cauna geus buahan.
“Sakadang Kuya, pelak cau silaing buahna geus arasak.” Ceuk monyet.
“Oh, enya isukan urang ala.” Tembal Kuya.

Di imahna, kuya mikir, kumaha carana sangkan eta cau teu beak ku monyet. Samemehna Kuya pernah kuciwa alatan nangka nu manehna beak ku monyet. Sanggeus sababaraha lila, Kuya manggih akal. Kuya ngabolongan koja nu rek dipake wadah cau.
Isukna, monyet ngajak kuya ngala cau nu geus arasak. Tuluy monyet naek tangkal cau bari mawa koja. Ari kuya mah nungguan di handapeun tangkal cau da teu bisa naek. Hiji..dua..tilu, terus wae cau nu diala ku monyet maruragan. Kuya hantem wae ngadaharan cau nu maruragan.
Cau nu terakhir teu didahar ku kuya. Kanyahoan cauna beak, monyet kacida amekna. Kuya ngadon cicing wae da ngarasa wareg pisan. Monyet mah indit ngaleos bari ambek.

“Asyik sudah berbuah...sudah berbuah”
Si Kura-kura sangat senang karena pohon pisang yang ditanamnya sudah berbuah.
Ternyata Si Monyet mengetahui kalau pohon pisang si Kura-Kura sudah berbuah.
“Kura-kura, pisang yang kamu tanam sudah pada mateng.” Kata Monyet.
“Oh, ia besok kita ambil.” Jawab Kura-kura
Di Rumahnya, Si Kura-kura berfikir, bagaimana caranya supaya pisangnya tidak habis dimakan monyet.
Sebelumnya si Kura-Kura pernah kecewa ketika nangka miliknya habis dimakan Monyet.
Ternyata Si Monyet mengetahui kalau pohon pisang si Kura-Kura sudah berbuah.
“Kura-kura, pisang yang kamu tanam sudah pada mateng.” Kata Monyet.
“Oh, ia besok kita ambil.” Jawab Kura-kura
Keesokan harinya, Kura-Kura mengajak Monyet memetik pisang yang sudah mateng.
Monyet memanjat pohon pisang sambil membawa keranjang.
Sementara itu, Kura-Kura yang tidak bisa memanjat menunggu di bawah pohon pisan.
Satu...dua..tiga...terus saja pisang yang dipetik monyet berjatuhan.
Kura-Kura terus saja memakan pisang yang berjatuhah.
Pisang yang terakhir tidak dimakannya.
Mengetahui pisang yang dipetiknya habis, Monyet sangat marah.
Kura-Kura hanya diam karena perutnya kenyang.
Si Monyet pergi sambil merasa kesal.

Nilai tanggung jawab ditekankan dongeng ini dengan menunjukkan bahwa segala perbuatan memiliki konsekuensi. Hal tersebut ditunjukkan dengan apa yang dialami tokoh Monyet. Konsep konsekuensi diajarkan untuk penanaman lebih jauh mengenai tanggung jawab.

Hal ini kelanjutan dari penanaman nilai disiplin dan tanggung jawab. Dalam nilai disiplin dan tanggung jawab, anak secara tidak langsung telah belajar konsep konsekuensi dari tindakan yang dilakukan. Oleh karena itu, untuk menanamkan nilai ini tidak sulit.

Dongeng dibacakan selama seminggu setiap akhir jam pelajaran. Anak diberi pertanyaan yang sesuai dengan isi dongeng. Pada minggu terakhir, anak diminta untuk menuliskan hal-hal yang membuat orang tua tidak suka pada sikap mereka seperti halnya sikap Kura-kura yang tidak disukai tokoh Monyet.
Lalu, pada pertemuan selanjutnya, guru akan menjelaskan satu per satu alasan orang tua tidak suka dengan sikap anak-anak. Penjelasan pun diberikan secara jelas dan detail sampai anak paham letak kesalahannya.

Selanjutnya, guru menyerahkan buku khusus yang berisi hal-hal sebaliknya dari yang dituliskan anak. Misalnya, jika kemarin anak menuliskan tidak membereskan tempat tidur membuat mereka dimarahi orang tua, dalam buku guru menuliskan membereskan tempat tidur. Hal-hal yang keliru dilakukan anak diganti dengan pernyataan positif yang harus dilakukan anak. Setiap hari guru akan memeriksa buku khusus tersebut apakah anak-anak mengerjakan hal-hal yang dituliskan dalam buku khusus tersebut.
Selain dengan dongeng tersebut, nilai-nilai tanggung jawab dapat diajarkan dengan kaulinan ucing sumput. Konsekuensi kembali ditanamkan dengan posisi ucing, yaitu orang yang ditemukan pertama oleh ucing dari persembunyian, harus menggantikan posisi ucing. Dengan hal tersebut, anak akan memahami konsep konsekuensi dan tanggung jawab untuk menjalankan konsekuensi tersebut.

e. Rendah Hati

Kerendahan hati dapat ditemukan pada dongeng berjudul “Sakadang maung jeung Beurit”. Tokoh Beurit mengajarkan sikap rendah hati dengan menepati janji suatu saat akan menolong tokoh Harimau jika tidak dijadikan mangsa. Janji itu ditepati ketika Harimau terjerat perangkap lalu Tikus menolong dengan melepaskan jeratan dengan giginya yang tajam.

Dina hiji poe sakadang beurit keur ulin dina luhut tunggul tangkal jati. Dihandapeun aya maung nu keur sare. Teu disangka beurit labuh murag ka handap meneran ninggang beuteung maung nu keur sare. Atuh maung kacida reuwasna. Kerewek wae beurit ditewak.

“Hampura teu dihaja. Kuring ulah dihakan. Kuring janji hiji mangsa bakal nulungan andika lamun ayeuna kuring dileupaskeun.”
“Haha..maneh makhluk leutik moal bisa nulungan aing. Aing nu pang kuatna, pang hebatna. Teu perlu ditulungan ku maneh nu leutik. Heug siah ayeuna maheh dileupaskeun. Inget janji maneh nya.” Maung kacida sombongna.

Sababaraha poe ti harita, kadenge aya sora gagauran. Eta sora si Maung nu ka eurad. Manehna hese ojah. Menta tulung tapi can aya nu nulungan. Keur kitu, beurit inget yen manehna pernah janji dina hiji mangsa bakal nulungan si Maung. Tuluy beurit megat-megatkeun eta eurad ku huntuna nu seukeut. Lila-lila eta eurad bisa lesot. Maung kacida atohna.
“Tah maung ulah sombong ayeuna kuring nu nulungan silaing.” Ceuk beurit bari tuluy lumpat da sieun ditewak.

Pada suatu hari, seekor tikus sedang bermain di atas tunggul pohon jati.
Di bawahnya ada seekor harimau yang sedang tertidur.
Tidak disangka, si Tikus terjatuh menimpa perut harimau.
Harimau sangat kaget.
Kerewek (baca Sunda) tikus ditangkapnya.

“Maaf tidak sengaja.”
“Jangan makan aku.”
“Aku berjanji, suatu saat nanti akan menolongmu jika sekarang aku dilepaskan.”
Tikus sangat ketakutan dimakan harimau.
“Haha...kamu makhluk kecil tentu tidak akan bisa menolong saya.”
“Aku yang paling kuat, paling hebat”
“Tidak perlu ditolong sama kamu yang kecil”
“Baiklah, sekarang kamu saya lepaskan.”
“Ingat, kamu berjanji.”
Harimau sangat sombongnya.
Beberapa hari kemudia, terdengar ada suara mengaum-ngaum.
Itu suara harimau yang terperangkap.
Ia susah bergerak.
Harimau meminta tolong namun belum ada saja yang menolong.
Ketika itu, tikus ingat bahwa dirinya pernah berjanji akan menolong si Harimau.
Tikus memutus-mutuskan perangkat dengan giginya yang tajam.
Lama-kelamaan perangkap itupun lepas.
Harimau sangat bahagia.
“Harimau jangan sombong, kini aku yang menolongmu.”
Kata tikus sambil terus berlari karena takut ditangkap.

Menepati janji adalah salah satu aspek kerendahan hati. Dengan mengakui pernah mendapat pertolongan, Tikus mengajarkan kerendahan hati. Hal tersebut harus ditanamkan pada anak sejak dini. Mengakui pertolongan orang lain dapat menjaga dari keangkuhan.

Isi dan kandungan dongeng “Sakadang Maung dan Beurit” ini diperkenalkan pada anak-anak pertama-tama dengan memperkenalkan adanya sebuah dongeng dari tanah Sunda berjudul “Sakadang Maung dan Beurit” oleh guru. Anak-anak duduk melingkar dan guru mulai menceritakan tokoh maung (harimau) dan beurit (tikus). Guru menyampaikan isi cerita tanpa melihat buku dengan mimik serta intonasi yang disesuaikan dengan tokoh dalam cerita. Guru pun melibatkan anak dengan cara membagi dua kelompok anak sebagai maung dan sekelompok lagi sebagai beurit.

Anak-anak ditugaskan untuk melakukan perbuatan yang sesuai dengan cerita serta mengulang apa yang diucapkan guru sesuai dengan tokoh yang mereka perankan. Contohnya saat kalimat “beurit labuh murag ka handap meneran ninggang beuteung maung nu keur sare”, anak-anak yang menjadi tokoh beurit ditugaskan untuk pura-pura jatuh dan mengenai perut temannya yang menjadi tokoh maung. Kemudian, anak-anak kelompok beurit akan berkata “Hampura teu dihaja. Kuring ulah dihakan. Kuring janji hiji mangsa bakal nulungan andika lamun ayeuna kuring dileupaskeun”.

Dengan melibatkan anak-anak secara audio, visual, dan fisik ketika menyimak sebuah dongeng, nilai-nilai sedang ditanamkan. Ketika anak-anak yang memerankan tokoh beurit pura-pura jatuh di atas perut teman-temannya yang berperan sebagai maung, anak-anak dapat menghayati tokoh beurit yang begitu menepati janjinya pada tokoh maung hanya karena saat beurit jatuh, tokoh maung menolongnya. Anak-anak pun dapat paham bahwa pertolongan sekecil apapun saat seseorang benar-benar terjatuh itu sangat berharga.

Setelah dongeng dibacakan, guru akan membuat pertanyaan yang berkenaan dengan nilai rendah hati untuk mengevaluasi kemampuan anak-anak memahami kandungan dongeng yang dibacakan. Dongeng tersebut akan terus diulas selama satu minggu. Anak akan memiliki buku khusus yang akan dicek selama satu minggu berisi hal-hal yang berkaitan dengan karakter rendah hati, seperti apabila telah menyelesaikan tugas lebih duluan daripada teman-teman lain maka harus tetap menjaga ketertiban kelas, memberikan pujian ketika teman memperoleh prestasi, mampu mengungkapan kelebihan-kelebihan yang dimiliki teman, dan selalu mengucapkan terima kasih kepada guru usai belajar di sekolah. Buku khusus itulah yang akan memperlihatkan capaian dan pemahaman anak tentang karakter rendah hati.

Permainan enggrang pun dapat digunakan untuk menanamkan kerendahan hati. Posisi enggrang yang membuat tubuh lebih tinggi mengajarkan untuk tetap menyeimbangkan badan agar tidak jatuh. Hal tersebut menunjukkan bahwa posisi tinggi tetap harus diseimbangkan karena jika tidak tubuh akan oleng dan jatuh.

Dongeng-dongeng dan kaulinan dari Sunda tersebut dilakukan ketika mengajarkan nilai-nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan rendah hati pada anak usia dini. Berikut adalah hasil yang diperoleh berupa data kuantitatif mengenai hasil pengajaran dengan strategi Dongkrak dan kelas yang tidak mendapatkan strategi Dongkrak.

Tabel: Perbedaan Karakter Anti-Korupsi Anak-Anak Usi Dini Kelas Eksperimen dan Kontrol 

tabel penddk antikorupsi

Dari hasil uji statistik, diperoleh informasi bahwa strategi DONGKRAK terbukti memiliki efektivitas internal dan eksternal dalam meningkatkan karakter antikorupsi anak usia dini. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara nilai rata-rata kelas eksperimen dan kontrol. Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa strategi DONGKRAK yang dikembangkan efektif meningkatkan karakter antikorupsi anak usia dini yang mencakup kejujuran, disiplin, tanggungjawab, kerjasama, dan rendah hati.

KESIMPULAN DAN SARAN

Salah satu cara pencegahan korupsi dapat dilakukan dengan pendidikan, yaitu pendidikan karakter antikorupsi untuk anak usia dini. Pendidikan karakter yang ditekankan pada penelitian ini penanaman nilai-nilai kejujuran, disiplin, kerja keras, tanggung jawab, dan rendah hati. Penanaman kelima nilai tersebut dilakukan dengan strategi Dongkrak (Dongeng jeung kaulinan keur barudak).

Dongeng yang digunakan dalam strategi Dongkrak ini ada empat dongeng. Adapun kaulinan yang digunakan adalah lima kaulinan. Strategi Dongkrak menggunakan dongeng dan permainan tradisional sebagai media untuk menanamkan nilai-nilai karakter antikorupsi. Hasilnya, kelas PAUD yang mendapatkan strategi Dongkrak menunjukkan pemahaman yang signifikan mengenai karakter antikorupsi.

Oleh karena itu, strategi Dongkrak dapat digunakan sebagai alternatif untuk pendidikan karakter antikorupsi di PAUD. Dengan strategi Dongkrak, program pendidikan karakter antikorupsi dapat mulai dilaksanakan sejak tingkat PAUD. Selain itu, strategi Dongkrak pun dapat menjadi motivasi untuk mengumpulkan berbagai permainan dan dongeng khas tiap daerah sebagai media pembelajaran.

REFERENSI

Ahyani, Nur. (2010). Metode Dongeng dalam Meningkatkan Perkembangan Kecerdasan Moral Anak Usia Dini, Jurnal Psikologi Universitas Muara Kudus, I (1), hal 29.
Agustin, Mubiar (2008). Mengenali Dan Memahami Dunia Anak. Bandung: Lotus.
Creswell, Jhon W. (2008). Research Design Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (Third ed). London. Sage Publications.
Handayu. (2001). Memaknai Cerita Mengasah Jiwa. Solo: Intermedia.
Hibana. (2002). Konsep Dasar Anak Usia Dini. Yogyakarta: PGTKI.
Huberman, A.M. & Miles, M. B. (1985). Qualitative Data Analysis: a Sourcebook of New Methods. London. Sage Publications.
Lickona, Thomas. (1991). Educating for Character. Terjemahan oleh Juma Abdu Wamaungo. (2012). Jakarta: Bumi Aksara.
Nugroho. (2005). Permainan Tradisional Anak-Anak sebagai Sumber Ide dalam Penciptaan Karya Seni Grafis. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Mahasiswa Program Studi PAUD SPS UPI. (2013). Ragam Permainan Tradisional dan Kreatif untuk Anak Usia Dini. Bandung: Rizqi.
Misbach, Ifa Hanifah. (2006). Peran Permainan yang Bermuatan Edukatif dalam Menyumbang Pembentukan Karakter dan Identitas Bangsa. Laporan Penelitian. Jurusan Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia.
Muallifah. (2013). Storytelling sebagai Model Parenting untuk Pengembangan Kecerdasan Anak Usia Dini, Jurnal Psikologi Islam (JPI), 10 (1).
Rogers,C.R. (1942). Counseling and Psychotherapy. Boston : Houghton Mifflin.
Sholehudin. (1997). Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah. Bandung: IKIP Bandung.
Subiantoro. (2012). Model Pendidikan Karakter untuk Anak MI Awal Berbasis Cerita Rakyat dalam Perspekti Sosiologi Pendidikan Islam, Jurnal Pendidikan Agama Islam, IX (1), hal 100.
Vygotsky, L.S. (1962). Thought and Language. Diterjemahkan dan diedit oleh E. Hanfmann & G. Vakar. Cambridge: MIT Press.
Yuliani, N. (2009). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Indeks.

PENULIS: DINAR NURINTEN, DEWI MULYANI, ALHAMUDDIN, DAN ANDALUSIA NENENG PERMATASARI | Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Bandung Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung
Tulisan ini telah dipublikasikan di JURNAL INTEGRITAS
Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet