• Beranda
  • Artikel
  • Riset Publik
  • Media Massa Lokal di Daerah Rawan Korupsi: Studi Kritis Terhadap Sikap Antikorupsi Media Massa Cetak Lokal di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Media Massa Lokal di Daerah Rawan Korupsi: Studi Kritis Terhadap Sikap Antikorupsi Media Massa Cetak Lokal di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Kehadiran surat kabar dalam sistem komunikasi massa dapat mendorong perubahan. Surat kabar lokal di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) seperti Flores Pos dan Pos Kupang sangat penting dalam mendorong perubahan sosial, khususnya di daerah dimana kemiskinan dan korupsi masih merajalela.

Surat kabar lokal perlu menunjukkan sikapnya jelas terhadap masalah korupsi. Pertanyaannya adalah bagaimana sikap media massa lokal, Flores Pos dan Pos Kupang, dalam menghadapi masalah korupsi di NTT? Peneliti menggunakan Analisis Wacana Kritis (CDA) model Teun A. van Dijk. Data yang dikumpulkan adalah teks editorial surat kabar, data kognisi penulis editorial dan data konteks sosial. Data teks editorial diperoleh dengan teknik dokumentasi dalam kliping editorial setiap koran. Data konteks sosial diperoleh dari observasi lapangan. Peneliti tidak hanya menganalisis teks, tetapi juga menganalisis kognisi sosial dan konteks sosial. Temuan dalam penelitian ini adalah bahwa Flores Pos dan Pos Kupang memiliki sikap anti korupsi. Perbedaannya terletak pada cara menyatakan sikap antikorupsi. Ini dapat dilihat dalam proses surat kabar lokal memproduksi teks editorial yang melibatkan kognisi dan konteks sosial. Sikap antikorupsi kedua surat kabar itu dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu faktor adalah dominasi kekuasaan oleh para pemilik media. Kedua surat kabar memiliki pola yang berbeda dalam memproduksi teks editorial tentang korupsi. Flores Pos cenderung lebih mandiri dalam memproduksi teks editorial, sementara Pos Kupang cenderung membatasi kebebasan penulis dalam memproduksi teks editorial. Realitas media dapat terkooptasi oleh pemilik modal, pasar atau kepentingan negara. Hal ini juga didukung konsep dasar analisis wacana van Dijk bahwa media tidak benar-benar netral. Oleh karena itu, pembaca harus lebih kritis dalam menilai sikap media.

PENDAHULUAN

Media massa cetak lokal atau surat kabar daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi media yang sangat penting dalam mendorong perubahan khususnya di wilayah kemiskinan dan rawan korupsi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi surat kabar daerah di satu pihak dan tantangan faktual bagi masyarakat Provinsi NTT di pihak lain.

Flores Pos dan Pos Kupang adalah dua media massa cetak lokal atau surat kabar daerah yang diterbitkan dan disebarluaskan di kawasan Provinsi NTT. Kedua surat kabar daerah ini menjadi penting untuk diteliti karena keduanya memiliki karakteristik yang khas baik dari segi kepemilikan media (media ownership) maupun dari aspek produksi jurnalistiknya (media contents).

Baik Pos Kupang maupun Flores Pos dikenal dan dibaca oleh masyarakat di Propinsi NTT. Kedua surat kabar ini diharapkan dapat memainkan peranannya dalam memberikan informasi dan sejumlah pandangan kepada masyarakat NTT.

Sikap atau pandangan yang datang dari Flores Pos dan Pos Kupang sebagai institusi media massa cetak lokal sesungguhnya menunjukkan visi yang melekat pada surat kabar daerah dan serentak mempengaruhi sikap kedua surat kabar ini terhadap setiap persoalan hidup di tengah masyarakat NTT. Ada berbagai ragam persoalan hidup yang menimpa masyarakat di Provinsi NTT yang perlu disikapi oleh kedua media massa cetak lokal ini. Salah satunya adalah masalah korupsi.

PERUMUSAN MASALAH

Penelitian ini memfokuskan perhatian pada objek penelitian yakni rubrik editorial yang dilansir oleh media massa cetak lokal, Flores Pos dan Pos Kupang yang berkaitan dengan masalah korupsi di NTT. Karena itu peneliti merumuskan masalah penelitian ini untuk menjawab pertanyaan mendasar : “Bagaimana sikap antikorupsi Flores Pos dan Pos Kupang di daerah rawan korupsi?”

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana sikap media massa lokal di daerah rawan korupsi, dalam hal ini di Provinsi Nusa Tenggara Timur sekaligus untuk mengetahui bagaimana media massa cetak lokal di Provinsi Nusa Tenggara Timur secara profesional menjalankan fungsi kontrol terhadap tata kelola pemerintahan daerah dan penggunaan keuangan negara di daerah.
Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan pemahaman dan kesadaran bagi masyarakat di daerah rawan korupsi bahwa media massa cetak lokal memiliki fungsi kontrol terhadap tata kelola pemerintahan daerah dan penggunaan keuangan negara sehingga mampu mengurangi atau pun mencegah terjadinya korupsi. Penelitian ini pun secara praksis memberikan kontribusi bagi media massa cetak lokal agar mampu secara institusional dan redaksional menunjukkan secara jelas dan tegas sikap antikorupsi.

TINJAUAN TEORETIS

Rubrik Editorial dalam Media Massa Cetak

Editorial atau tajuk rencana pada sebuah media massa cetak atau surat kabar merupakan opini berisi pendapat dan sikap resmi suatu media sebagai institusi penerbitan terhadap persoalan aktual, fenomenal atau kontroversial yang terjadi di tengah masyarakat.

Jacob Oetama dalam bukunya Pers Indonesia, Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Tulus, berpendapat bahwa bidang editorial itu dikembangkan dari titik tolak advocacy, suatu sikap perjuangan yang secara eksplisit memihak serta cenderung hanya membuat dua kategori hitam-putih, tanpa nuansa-nuansa serta penguatan diri (Oetama, 2001: 331-332).
Pada tataran ini penting bagi kita untuk menilai sikap surat kabar sebagai institusi penerbitan publik. Sikap media massa cetak sebagai sebuah institusi penerbitan dapat dikaji melalui kolom editorial yang dihasilkannya. Dan satu hal yang penting adalah sikap tersebut mencerminkan prinsip kebebasan (independency) media terhadap kekuatan lain di dalam maupun di luar dirinya. Kebebasan atau freedom menurut istilah Dennis McQuail (2010) merupakan salah satu prinsip penting dalam menilai akuntabilitas media.

Editorial dalam media massa cetak sesungguhnya bukanlah sebagai penghias atau sekadar pengantar belaka yang pantas diabaikan oleh para pembaca. Sebaliknya redaktur/editor media massa cetak hendaknya secara sadar memposisikan editorial sebagai sebuah rubrik yang penting dan strategis sekaligus menjamin agar editorial pantas dibaca oleh para pembaca. Hal ini karena posisi editorial sebagai rubrik yang menunjukkan sikap institusi media terhadap suatu kasus atau wacana yang sedang berkembang di dalam masyarakat.

Skema Editorial Struktur dan Fungsinya

diagram editorial

*) Sumber: Dihimpun dari Rizal Mallarangeng (2010:13) dan Laura L. Babb (1977:20)

Editorial sebagai Sebuah Wacana

Media massa sebagai sebuah institusi penerbitan mempunyai kemampuan untuk membentuk opini publik. Akibatnya media massa mempunyai peluang yang sangat besar untuk mempengaruhi makna dan gambaran yang dihasilkan dari realitas yang dikonstruksikan.

Rizal Mallarangeng (2010: 14) menulis bahwa tajuk (editorial) dengan tenang berusaha memberikan pengertian-pengertian yang mendalam dan merekonstruksi realitas agar memadai bagi proses pengambilan sikap pembacanya. Pendapat ini telah dipertegas oleh pendapat Frazer Bond yang mengatakan :

“Penulis tajuk berpikir mendalam untuk memilih kata-kata; dia menulis dengan penuh otoritas, dan dengan cara ini dia cenderung meniadakan pengaruh reportase yang terlalu tergesa dan serampangan... dia menghiasi tulisannya dengan kutipan-kutipan yang cerdas..., dan dia meluangkan waktu beberapa saat untuk memeriksa dan membenahinya dengan hati-hati. Hasilnya, tulisan seringkali mencapai bentuk prosa kontemporer yang sekaligus anggun, kuat, cerdas, dan berpengaruh” (dalam Mallarangeng, 2010: 14-15).

Editorial adalah sebuah wacana dalam bentuk text (Hamad, 2010: 44-50). Wacana menurut Foucault (dalam Eriyanto, 2009: 65) merupakan suatu ide, konsep, opini dan pandangan hidup yang dibentuk dalam suatu konteks tertentu sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak tertentu. Dalam suatu ungkapan, Michel Foucault (dalam O’Donnell, 2009: 107) mengatakan: “Kita hidup dalam wacana seperti ikan dalam air.”

Editorial sebagai sebuah wacana dapat dipahami sebagai suatu explanation atau penjelasan tentang sikap surat kabar terhadap suatu peristiwa atau realitas yang terjadi di tengah masyarakat. Seperti layaknya sebuah berita yang dikonstruksikan dari fakta, editorial atau tajuk juga dikonstruksikan dari fakta.

Teun A. van Dijk dalam studinya tentang berita (news) pada surat kabar membuat analisis wacana yang disebutnya sebagai news discourse. Lebih lanjut van Dijk menjelaskan bahwa berita dalam surat kabar memiliki kekhasan dalam wacana media massa. Berita dalam surat kabar tersebut juga memiliki kemiripan dengan berita pada radio dan TV, atau pada surat kabar itu sendiri, terdapat kesamaan dengan editorial atau iklan.

Dalam bukunya News as Discourse, Teun A. van Dijk (1988: 1-2) mengatakan bahwa analisis wacana merupakan studi dari berbagai dimensi atau disiplin ilmu yang memiliki keterkaitan dan relasi dengan konteks sosial dan proses kognitif dari sebuah teks yang diproduksi.

Penegasan van Dijk inilah yang mendorong peneliti untuk menggunakan metode analisis wacana model van Dijk dalam penelitian kualitatif terhadap editorial tentang korupsi pada surat kabar Flores Pos dan Pos Kupang di daerah miskin dan rawan korupsi, Provinsi NTT.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini memfokuskan diri pada editorial Flores Pos dan Pos Kupang yang mengulas masalah korupsi di Provinsi NTT. Dengan menggunakan jenis penelitian deskriptif, peneliti hendak menggambarkan bagaimana sikap kedua surat kabar daerah tersebut terhadap masalah korupsi di Provinsi NTT. Metode yang dipakai dalam penelitian kualitatif ini adalah metode analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysis/CDA) model Teun A. van Dijk.

Newsroom Flores Pos dan Pos Kupang

Dalam sebuah newsroom sebuah surat kabar para pekerja media menjalankan sebagian dari tugas jurnalistik mereka. Mereka perlu menghayati paham jurnalisme yang sejati agar tugas jurnalistiknya berhasil guna bagi segenap publik pembaca.

Makna jurnalisme tidak ditentukan oleh adanya mesin cetak atau izin penerbitan/penyiaran. Makna jurnalisme ditentukan oleh tujuannya. Jack Fuller, penulis, novelis, pengacara, dan presiden Tribune Publishing Company yang menerbitkan harian Chicago Tribunes mengatakan: “Tujuan utama jurnalisme adalah menyampaikan kebenaran sehingga orang-orang akan mempunyai informasi yang mereka butuhkan untuk berdaulat” (dalam Kovach, 2004: 15).
Newsroom Flores Pos

Ruang redaksi (newsroom) harian Flores Pos nampak sederhana jika dibandingkan dengan ruang redaksi harian ibukota, seperti Kompas atau Koran Tempo. Ruang redaksi Flores Pos berukuran 8x12 meter itu ditempati oleh sedikitnya 17 orang pekerja media di kantor pusat, terdiri atas 6 orang editor dan 11 orang reporter. Mereka bekerja hanya dengan 10 unit computer pentium 4.

Pemimpin redaksi Flores Pos, Frans Anggal menempati ruang tersendiri berdampingan dengan ruang redaksi. Di tengah-tengah ruang redaksi ditempatkan sebuah meja panjang berukuran 2x4 meter, di mana setiap rapat redaksi digelar.

Rapat redaksi harian umum Flores Pos selalu terjadi setiap hari pada pukul 12.00 WITA. Rapat redaksi Flores Pos berlangsung sekitar 30 menit atau lebih tergantung agenda dan isu yang sedang terjadi. Mekanisme rapat redaksi Flores Pos dimulai dengan pembacaan notulen rapat sebelumnya, evaluasi produk baik berita, gambar/foto, artikel, editorial maupun iklan, penentuan distribusi naskah mulai dari halaman satu hingga halaman terakhir, dan rapat redaksi juga membahas soal-soal lainnya yang berkaitan dengan kinerja wartawan.

Kesibukan seperti layaknya sebuah ruang redaksi surat kabar harian, pada Flores Pos mulai nampak pada pukul 12.00 siang hingga pukul 19.00 malam. Semua naskah, seperti berita, artikel, editorial, dan iklan harus sudah masuk ke meja redaksi pada pukul 12.00 siang untuk selanjutnya digelar rapat redaksi guna menentukan distribusi naskah. Pada pukul 19.00 WITA (jam 7 malam) semua pekerjaan untuk hari bersangkutan selesai dan semua naskah siap untuk dicetak pada Percetakan Arnoldus Ende.
Newsroom Pos Kupang

Ruang redaksi (newsroom) harian umum Pos Kupang terletak di lantai 2 gedung Kantor Pos Kupang yang terletak di Jl. Kenari No. 1, Kelurahan Naikoten I, Kupang, ibukota Provinsi NTT. Ruang berbentuk huruf L itu mampu menampung 42 orang anggota redaksi. Berdampingan dengan ruang redaksi terdapat ruang pemimpin redaksi dan ruang sekretaris redaksi. Setiap anggota redaksi dilengkapi dengan fasilitas computer pentium 4 dan fasilitas internet.

Aktivitas pada ruang redaksi Pos Kupang terjadi setiap hari, dimulai sejak pukul 08.00 WITA. Pada jam tersebut semua wartawan/reporter, redaktur penanggungjawab dari setiap desk dan redaktur pelaksana diwajibkan menghadiri rapat pagi guna menentukan materi berita yang harus dikejar pada hari tersebut untuk diterbitkan keesokan harinya. Rapat pagi biasanya dipimpin secara bergilir oleh salah satu dari para redaktur desk. Redaktur pelaksana turut hadir dalam rapat tersebut untuk menjalankan fungsi koordinasi dan pengawasan. Apabila ada fakta berita yang masih perlu didalami, maka rapat ini menentukan juga bagaimana strategi pencarian fakta dan penugasan bagi wartawan untuk menindaklanjuti fakta berita tersebut.

Setelah rapat redaksi, selalu dibuat rapat pada masing-masing desk dipimpin oleh para redaktur penanggungjawab dari setiap desk sebelum para wartawan/reporter terjun mengejar berita. Ada 7 desk, yaitu: POLKAM, KOTA, GAYA HIDUP, OLAHRAGA, HUKUM, EKBIS (Ekonomi dan Bisnis), DAERAH.

Pada sore hari pukul 15.00 WITA, para wartawan/reporter, redaktur penangungjawab desk dan redaktur pelaksana mengadakan rapat evaluasi guna mengevaluasi apa yang dikerjakan oleh para wartawan/reporter pada hari itu. Evaluasi ini penting untuk melihat kembali apakah fakta berita sudah memenuhi syarat untuk menjadi berita Pos Kupang. Jika belum maka rapat evaluasi akan memberikan rekomendasi bagi para wartawan/reporter guna melengkapi kekurangan yang masih ada untuk sebuah fakta berita. Tetapi jika telah memenuhi syarat untuk dimuat, maka fakta berita tersebut diputuskan sebagai layak untuk diberitakan oleh Pos Kupang.

Selain rapat redaksi, rapat desk dan rapat evaluasi, pada pukul 17.00 WITA diadakan lagi rapat budgeting. Rapat ini diadakan untuk membahas dan mematangkan kembali fokus berita yang akan diterbitkan keesokan harinya. Selain itu dalam rapat ini diadakan pengeditan kembali semua berita yang telah diedit oleh para redaktur dari setiap desk. Selanjutnya berita-berita yang telah diedit tersebut disalurkan ke redaktur pelaksana.

Penentuan headline Pos Kupang selalu dilakukan melalui rapat yang terdiri atas pemimpin redaksi, redaktur pelaksana dan bagian pracetak. Biasanya rapat penentuan headline terjadi pada pukul 21.00 WITA. Selanjutnya semua berita yang laik terbit akan diproses lebih lanjut pada bagian pracetak di bawah pengawasan pemimpin redaksi. Setelah melalui tahapan setting (layout), berita-berita, artikel, editorial dan iklan akan dicetak dan selanjutnya melalui bagian sirkulasi disalurkan ke tangan para pembaca.
Masalah Korupsi dalam Editorial Media Massa Cetak

Media massa cetak lokal memegang peranan penting sebagai basis informasi dan perubahan sosial. Media massa cetak lokal pada umumnya, mempunyai posisi dan arti strategis dalam upaya berlanjut untuk mewujudkan kebaikan bersama (bonum commune) masyarakat di daerah. Posisi dan arti media massa cetak lokal akan menjadi lebih penting manakala media tersebut dibutuhkan oleh masyarakat bukan hanya untuk mendapatkan informasi tetapi juga sebagai media yang memperketat fungsi kontrolnya agar tidak terjadi tindak korupsi yang merugikan rakyat banyak.

Korupsi bagi masyarakat di Provinsi NTT telah menjadi momok. Bahkan korupsi bukan hanya sesuatu yang kronis, tetapi juga ironis karena terjadi di daerah yang tergolong miskin. Ibaratnya sudah jatuh ketimpa tangga, sudah miskin, korupsi pula.

Akibat dari tindak korupsi tersebut di atas, maka masyarakat kebanyakan di wilayah NTT akan mengalami efek buruk yang langsung bertalian dengan korupsi, seperti : kemiskinan, gizi buruk, angka putus sekolah yang tinggi, serta pengangguran yang kian marak. Pelaku tindak korupsi di NTT bervariasi. Umumnya para pelakunya adalah kalangan menengah ke atas, yaitu para pejabat pemerintahan daerah (gubernur, walikota/bupati, kepala dinas, camat, kepala desa dan staf pemerintahan daerah lainnya), anggota DPRD, polisi, jaksa, hakim, pengurus partai politik, para pengusaha, bahkan para guru dan kepala sekolah pun terlibat dalam masalah korupsi di NTT.

Sikap sebuah institusi pers sangat perlu untuk diketahui baik oleh penguasa maupun oleh rakyat. Karena sikap sebuah institusi pers merupakan bagian dari upaya atau perjuangan yang secara sadar dan cerdas dilakukan untuk memajukan masyarakat.

Editorial Flores Pos : “BENTARA”

Editorial Flores Pos dikenal dengan nama “Bentara”. Mengapa disebut “Bentara”, tentu ada alasannya. Alasan atau pun latar belakang nama “Bentara” untuk rubrik editorial Flores Pos, memiliki makna filosofisnya yaitu pembawa kabar (sabda). Makna ini tentu saja sejalan dengan semangat (spirit) yang ada dalam diri Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini/SVD) Provinsi Ende selaku pemilik surat kabar harian Flores Pos, yakni mewartakan kabar gembira kepada seluruh umat manusia.

Nama “Bentara” yang dipakai sebagai nama untuk editorial Flores Pos saat ini sesungguhnya memiliki makna filosofis dan keterkaitan historis sesuai dengan penjelasan tersebut di atas. “Bentara” Flores Pos merupakan sikap resmi Flores Pos terhadap sebuah isu atau pun kejadian atau fakta yang sedang “memanas” baik di tingkat daerah, nasional, maupun internasional. “Bentara” Flores Pos merupakan juga pedoman ke mana peliputan berita harus diarahkan.

Penulis rubrik “Bentara” pada Flores Pos adalah seorang wartawan senior sekaligus menjabat sebagai pemimpin redaksi pada surat kabar tersebut. Dia adalah Frans Anggal. Pendidikan terakhirnya adalah sarjana di bidang filsafat pada Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Frans Anggal menulis “Bentara” seorang diri. Hanya dia sajalah yang dipercayakan untuk menulis rubrik “Bentara”. Kecuali jika ia berhalangan, maka pemimpin umum mengambil kebijakan dengan menentukan orang lain yang memiliki kapasitas dan kapabilitas. Kebijakan dalam menentukan satu orang saja yang menjadi penulis editorial Flores Pos diambil dengan alasan agar sikap media sebagai sebuah institusi pers tidak membias dan berubah-ubah sesuai perspektif orang yang berbeda-beda (berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Frans Anggal, bertempat di Kantor Pusat Redaksi Flores Pos, Ende, Flores, NTT).

Menurut Frans Anggal, masalah korupsi di wilayah NTT selalu diangkat dalam rubrik editorial Flores Pos. Flores Pos mau menunjukkan sikapnya yang jelas menolak praktek korupsi dengan segala bentuknya maupun siapa pun orangnya baik di tingkat daerah (kabupaten) maupun tingkat propinsi. Dengan ini Flores Pos berkomitmen menunjukkan sikap menolak praktek korupsi di NTT sekaligus bertujuan menyadarkan pembaca Flores Pos bahwa korupsi dalam bentuk apa pun harus ditolak di NTT.

Tujuan lain dengan diangkatnya masalah korupsi di NTT dalam editorial Flores Pos adalah mau mengubah pandangan masyarakat (mindset) untuk tidak menerima nasibnya sebagai orang miskin di daerah tertinggal, tetapi harus bangkit untuk mengubah nasibnya sendiri, di antaranya dengan melawan praktik korupsi (berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Frans Anggal, bertempat di Kantor Pusat Redaksi Flores Pos, Ende).

Editorial Pos Kupang : “SALAM”

“Salam” adalah nama yang diberikan untuk rubrik editorial pada surat kabar Pos Kupang. Seperti “Bentara” pada Flores Pos memiliki makna filosofis, nama “Salam” untuk rubrik editorial pada Pos Kupang pun memiliki makna filosofis. “Salam” artinya Pos Kupang hendak menyapa para pembacanya.

Pos Kupang tentu punya caranya sendiri untuk menyapa para pembaca. Melalui rubrik “Salam”, Pos Kupang sebagai sebuah institusi pers daerah di Propinsi Nusa Tenggara Timur mengambil sikap kritis namun dengan cara yang halus, santun. Pesan yang disampaikan melalui “Salam” harus tetap kuat.

Pos Kupang dalam menjalankan fungsi kontrolnya terhadap pemerintah setempat berupaya menunjukkan warna khasnya melalui pilihan kata yang tidak menghakimi atau menuduh tetapi dengan mengambil posisi “pembaca”, Pos Kupang menyampaikan sikapnya dalam rubrik “Salam”. “Salam” adalah sikap terakhir dari media (Pos Kupang) terhadap fakta atau fenomena sosial yang sedang terjadi (berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Tony Kleden, bertempat di Kantor Pusat Redaksi Pos Kupang, Jl. Kenari No.1, Naikoten, Kupang).

“Salam” ditulis oleh para redaktur senior Pos Kupang secara bergilir. Namun yang paling sering mendapat tugas menulis editorial Pos Kupang adalah Tony Kleden. Tony Kleden bekerja di Pos Kupang sejak tahun 1996 sebagai seorang reporter. Ketika itu Pos Kupang masih berusia 4 tahun. Tidak lama bagi seorang Tony Kleden untuk mendapat kepercayaan sebagai salah seorang redaktur di Pos Kupang. Pada tahun 1997, ia dipercayakan sebagai redaktur pendidikan dan kota. Tony Kleden yang berlatarbelakang pendidikan sarajana filsafat ternyata memiliki bakat di bidang tulis-menulis. Karena itu pula lah ia mendapat kepercayaan sebagai penulis kolom editorialnya Pos Kupang, Salam.

“Salam” memiliki ruang yang sempit. Terdiri atas 70 baris, sehingga membutuhkan keahlian dan kecerdasan dalam membuat pilihan kata yang tepat guna menunjukkan konteks tanpa perlu mengulang-ulang berita yang sudah dilansir tetapi segera menunjukkan sikap yang jelas dari sebuah institusi pers daerah yang bernama Pos Kupang terhadap berbagai fakta dan fenomena sosial yang terjadi. Salah satunya adalah masalah korupsi di daerah miskin, NTT.

Hasil Riset dan Pembahasan

1. Sikap Antikorupsi Flores Pos

Sikap antikorupsi surat kabar lokal Flores Pos dapat dilihat berdasarkan tiap data yang dianalisis :

Teks editorial “Bentara” dibentuk dalam suatu praktik wacana. Teks editorial Flores Pos, menunjukkan adanya perlawanan yang keras dan tegas terhadap korupsi. Secara makro, editorial Flores Pos menunjukkan tema/topik yang memiliki koherensi global. Hal ini berarti ada gagasan umum yang dominan dari topik, yaitu: mendorong proses hukum atas semua kasus korupsi. Dari aspek superstruktur, editorial memiliki judul yang ringkas dan sekaligus memancing rasa ingin tahu pembaca. Hal ini menunjukkan Flores Pos sebagai institusi ingin menunjukkan sikapnya secara gamblang sekaligus mengajak publik untuk bersama-sama merespon semua persoalan korupsi yang ada. Hampir semua lead pada editorial Flores Pos adalah lead ringkas berita (news summary lead). Hal ini berarti editorial

Flores Pos didasarkan pada fakta berita yang telah dimuat oleh Flores Pos pada hari sebelumnya, tidak melulu berisikan opini. Ending-nya berupa solusi, harapan dan sindiran terhadap proses penegakan hukum kasus korupsi. Secara mikro, semua latar ditempatkan pada alinea pertama. Sedangkan detil pada alinea berikutnya. Jumlah alinea antara 8-10 alinea. Kalimatnya jelas dan langsung pada sasaran. Bentuk kalimatnya aktif. Pelaku korupsi adalah subjek kalimat. Artinya yang mau ditonjolkan adalah pelaku korupsi yang harus diproses hukum seadil-adilnya. Sedangkan kata ganti yang sering digunakan dalam editorial Flores Pos adalah “kita”. Kata ini berimplikasikan menumbuhkan solidaritas, aliansi, dan perhatian publik pada setiap kasus korupsi. Editorial Flores Pos juga menggunakan kata-kata yang memiliki makna leksikal, seperti kata “sikat” yang bermakna sebagai tindakan pelaku korupsi mencaplok uang rakyat. Leksikon yang dipilih dalam editorial Flores Pos memberi aksentuasi bahwa korupsi adalah tindakan yang keji dan termasuk kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). Hal ini dipertegas juga dengan pemakaian tanda kutip pada setiap kata yang memiliki makna leksikal tersebut. Penggunaaan metafora pada editorial Flores Pos adalah untuk memberi sindiran pada para pelaku korupsi yang semuanya adalah para pejabat eksekutif dan legislatif.

Penulis editorial Flores Pos dominan menggunakan skema peristiwa (event schemas) dalam mengulas masalah korupsi. Penulis editorial Flores Pos dalam memproduksi (menulis) editorial selalu menggunakan laporan yang ia ambil dari berita-berita sehari sebelumnya yang ditulis oleh wartawan Flores Pos tentang kasus korupsi. Setelah membaca berita korupsi, penulis menyerapnya melalui proses inkubasi (pembatinan) untuk menemukan iluminasi (penerangan) melalui bacaan lain seperti buku, internet, makalah, dll. Setelah itu penulis membuat verifikasi data/fakta dan menuliskannya. Pertimbangan yang selalu ada dalam pikiran penulis adalah pertimbangan nilai (pesan apa yang dapat disampaikan kepada pembaca) dan juga pertimbangan tentang bagaiamana posisi institusi Flores Pos berhadapan dengan masalah atau kasus korupsi tersebut (berdasarkan wawancara dengan Frans Anggal, penulis editorial Flores Pos, bertempat di Kantor Pusat Harian Umum Flores Pos, Jl. El Tari, Ende).

Editorial Flores Pos selain dapat dibaca pada halaman 10 surat kabar tersebut, dapat juga dibaca melalui media online pada blog: frans-anggal.blogspot.com. Satu hal yang pasti dari editorial Flores Pos adalah mengontrol kekuasaan dan menyuarakan kepentingan rakyat kecil. Kekuasaan yang dominan terjadi dalam masyarakat adalah kekuasaan yang dimiliki oleh para pejabat baik eksekutif maupun legislatif. Dengan tingkat pendidikan pada rakyat yang masih cukup rendah, maka legitimasi atas kekuasaan para pejabat di daerah menjadi semakin kuat. Rakyat pada kebanyakan wilayah di NTT tentu saja tidak memiliki akses informasi. Masih banyak rakyat yang buta huruf dan tinggal terpencil di wilayah pedalaman. Kondisi ini yang membuat praktik korupsi oleh para pejabat di daerah NTT terasa “aman” karena kontrol langsung dari rakyat tidak terjadi, sementara pers sendiri harus berjuang keras untuk mendapatkan data atau informasi tentang penggunaan anggaran daerah yang paling banyak dikorupsi.

2. Sikap Antikorupsi Pos Kupang

Peneliti menarik kesimpulan atas sikap antikorupsi surakt kabar lokal Pos Kupang berdasarkan sejumlah data yang telah dianalisis, sebagai berikut:

Secara umum dapat dikatakan bahwa teks editorial Pos Kupang memberikan kritik atas nama institusi media (pers daerah) terhadap berbagai masalah yang ada di wilayah NTT, termasuk masalah korupsi. Editorial Pos Kupang merupakan respon institusi terhadap fenomena yang terjadi. Ia juga merupakan sikap terakhir dari media terhadap fakta sosial yang ada. Secara makro, editorial Pos Kupang memiliki tema dominan yang menyoroti upaya mengatasi masalah korupsi. Editorial Pos Kupang tidak menyerang langsung para pelaku kejahatan korupsi. Umumnya para pelaku korupsi adalah para pejabat daerah baik eksekutif maupun legislatif. Dari aspek superstruktur, editorial Pos Kupang memiliki kesamaan dalam menempatkan latar, yaitu pada alinea pertama. Detil pada alinea berikutnya. Jumlah alinea berkisar antara 10-14 alinea. Kalimatnya panjang. Bentuk kalimat yang dominan adalah kalimat aktif yang subyeknya adalah pihak (lembaga, kelompok massa) yang berupaya memberantas kejahatan korupsi. Subyeknya bukan merupakan pelaku korupsi. Kata ganti yang dominan dipakai adalah “kita”. Pos Kupang sebagai institusi media di daerah NTT ingin mengajak pembaca untuk bersama-sama merespon adanya masalah korupsi di NTT. Selain itu editorial Pos Kupang juga menggunakan kata ganti “mereka” untuk menyebutkan para pelaku korupsi yaitu para petinggi di daerah. Editorial Pos Kupang juga banyak memakai konjungsi “yang”, “karena”. Hal ini menunjukkan bahwa penulis editorial ingin memberikan penjelasan lebih lanjut tentang permasalahan yang ditanggapi dalam editorial. Editorial Pos Kupang juga menggunakan beberapa kata yang memiliki makna leksikal, seperti: kata “virus” untuk menyebut korupsi atau “orang besar” untuk menyebutkan para pejabat di daerah. Penggunaan tanda kutip juga dipakai oleh penulis editorial untuk memberi aksentuasi pada kata yang dimaksud untuk membangun pemahaman dalam bangunan kalimat. Metafora juga dipakai oleh penulis editorial dalam teks editorial Pos Kupang.

Penulis editorial Pos Kupang mengambil posisi sebagai pembaca, kendati ia mewakili institusi media (pers daerah) Pos Kupang dalam menyampaikan sikap dan pesan kepada pembaca. Dengan berbagai pengalaman dalam dunia tulis-menulis, Tony Kleden, penulis editorial Pos Kupang, dominan menggunakan skema peristiwa (event schemas) untuk mengulas tentang masalah korupsi di NTT. Selain itu sang penulis juga menggunakan semantic memory untuk menyampaikan sikap dan pesan melalui editorial. Penulis editorial Pos Kupang, Tony Kleden (dalam wawancara dengan peneliti), menegaskan bahwa cara menyampaikan kritik melalui editorial adalah dengan cara yang santun. Namun pesannya kuat. Ia berusaha menjelaskan persoalan korupsi kepada pembaca dengan kalimat yang cenderung panjang tetapi dengan diksi tertentu memberi aksentuasi pada pesan dan solusi yang ingin diutarakan. Penulis editorial Pos Kupang tetap memiliki kesadaran bahwa ia mewakili institusi Pos Kupang.

Kondisi korupsi di NTT cukup memprihatinkan. Banyak kasus baru yang terjadi, sementara kasus lama, dari tahun-tahun sebelumnya belum tuntas diselesaikan secara hukum oleh aparat penegak hukum. Sementara itu, rakyat NTT cenderung apatis terhadap jalannya pemerintahan di daerah. Hal ini karena dipicu oleh pendidikan yang masih rendah dan tingkat ekonomi yang masih berada di bawah garis kemiskinan. NTT adalah salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Keseluruhan realitas di atas, sangat berbanding terbalik dengan kehidupan para pejabat sehingga muncul kesan bahwa pembangunan di NTT hanya diperuntukkan bagi segelintir orang. Pada konteks Nusa Tenggara Timur, data BPS membuktikan bahwa dari sekitar 4,4 juta jiwa penduduk NTT, angka kemiskinan mencapai 23,31% dan penganggur sebesar 3,98%. Sementara pendapatan per kapita penduduk NTT sebesar Rp 4,4 juta per tahun. Sedangkan pertumbuhan ekonomi hanya sebesar 4,8%. Realitas ini diperparah lagi dengan persoalan di sektor pendidikan dan kesehatan (SinlaEloE, 2010).

KESIMPULAN
 
Berikut ini adalah simpulan yang ditarik oleh peneliti menurut level analisis :

Level Analisis Flores Pos Pos Kupang
Teks Teks editorial Flores Pos, menunjukkan adanya perlawanan yang keras dan tegas terhadap korupsi. Secara makro, editorial Flores Pos menunjukkan tema yang dominan, yaitu: mendorong proses hukum atas semua kasus korupsi. Teks editorial Flores Pos umumnya langsung “menyerang” para koruptor. Teks editorial Pos Kupang merupakan respon institusi terhadap fenomena yang terjadi. Secara makro, editorial Pos Kupang memiliki tema dominan, yaitu: menyoroti upaya mengatasi masalah korupsi. Editorial Pos Kupang tidak menyerang langsung para pelaku kejahatan korupsi.
Kognisi Sosial Frans Anggal adalah penulis yang paling sering menggunakan skema peristiwa (event schemas). Ia juga memakai memori semantik (semantic memory) dalam menjelaskan realitas korupsi yang terjadi dalam teks editorialnya. Penulis editorial Flores Pos berani mengangkat kasus korupsi berdasarkan fakta. Bahasa yang digunakan cenderung “menyerang” para pelaku korupsi. Penulis editorial, Tony Kleden selalu mengambil posisi sebagai “pembaca”. Penulisannya memakai skema peristiwa (event schemas). Kasus korupsi yang menjadi berita di Pos Kupang, ditulis kembali dengan model peristiwa yang memuat kritik media. Namun bahasa kritiknya santun atau cenderung memperhalus (ada gejala eufemisme).
Konteks Sosial Baik Flores Pos maupun Pos Kupang, keduanya dilatari oleh konteks sosial yang sama yaitu kemiskinan dan korupsi di hampir semua daerah di NTT yang cukup memprihatinkan. Banyak kasus korupsi yang terjadi, sementara kasus korupsi dari tahun-tahun sebelumnya belum tuntas diselesaikan secara hukum oleh aparat penegak hukum. Sementara itu, rakyat NTT cenderung apatis terhadap jalannya pemerintahan di daerah. Kondisi ini dipicu oleh tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan (ekonomi) yang sangat rendah. Keseluruhan realitas di atas, sangat berbanding terbalik dengan kehidupan para pejabatnya yang tergolong “mewah”. Sehingga dapat dikatakan bahwa pembangunan di NTT masih dinikmati oleh segelintir orang saja.

Atas dasar simpulan menurut level analisis di atas, secara mikro ditemukan bahwa aktor yang melakukan kejahatan korupsi di NTT umumnya adalah para pejabat daerah baik eksekutif maupun legislatif. Para pejabat birokrat ini biasanya melakukan kolusi dengan para pengusaha (kontraktor) selain melakukan tindakan yang sama (praktik KKN) dengan oknum penegak hukum.
    
Di tingkat meso, terdapat instansi atau dinas pemerintahan dan perusahan milik daerah yang disebut sebagai “tempat basah”, yaitu tempat di mana terdapat banyak proyek. Uang untuk proyek-proyek inilah yang menjadi objek atau sasaran untuk dikorupsi oleh para aktor korupsi (koruptor) yang memiliki kekuasaan dan akses yang besar.
    
Pada level makro ditemukan bahwa masyarakat di NTT umumnya tidak mempunyai akses informasi yang cukup bagi mereka guna turut serta mengontrol tata kelola pemerintahan daerah yang baik. Di sinilah letak pentingnya mengetahui sikap media, dalam hal ini Flores Pos dan Pos Kupang berhadapan dengan masalah korupsi di NTT.
    
Korupsi adalah musuh bersama. Baik rakyat dalam level makro maupun orang perseorangan (level mikro) atau pun lembaga dalam level meso, semuanya sepakat untuk memberantas korupsi dari bumi NTT. Hal ini karena NTT selain sebagai provinsi miskin juga salah satu provinsi terkorup di Indonesia. Surat kabar daerah NTT, baik Flores Pos maupun Pos Kupang perlu menyadari realitas ini. Inilah konteks yang mendorong penulis editorial Flores Pos maupun Pos Kupang memproduksi teks editorial yang mengulas masalah korupsi di NTT.
    
Tabel berikut ini memetakan sikap antikorupsi media massa cetak lokal di Provinsi Nusa Tenggara Timur :

Surat Kabar Daerah Sikap Antikorupsi
Flores Pos Sikap Flores Pos sebagai institusi media (pers daerah) terhadap korupsi di NTT adalah menentang dengan tegas tindakan korupsi sebagai bentuk kejahatan terhadap rakyat. Flores Pos juga dengan lugas dan tegas membela kepentingan rakyat dan mendorong proses penegakan hukum bagi para aktor korupsi (koruptor) yang adalah para pejabat di daerah baik eksekutif maupun legislatif.
Pos Kupang Sikap Pos Kupang sebagai salah satu satu institusi media (pers daerah) di NTT adalah menolak praktik korupsi dalam bentuk apa pun. Pos Kupang tetap menjalankan fungsi kontrolnya terhadap jalannya tata pemerintahan yang bersih dari praktik korupsi. Para pejabat daerah baik eksekutif maupun legislatif mendapat sorotan dari Pos Kupang, dalam rangka menjalankan fungsi kontrol pers.

Penelitian terhadap editorial media massa cetak lokal dengan menggunakan metode analisis wacana kritis van Dijk (Critical Discourse Analysis/CDA) adalah sebuah terobosan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian.

Penelitian seperti ini pun perlu dikembangkan terus pada setiap objek penelitian, baik penelitian tentang institusi media (media institution) maupun produk media (media content) atau tentang publik/khalayak (media audience) dan konteks sosial (media context). Hal ini penting guna melihat sejauh mana eksisitensi media sebagai bagian dari sistem komunikasi massa yang bermanfaat bagi terwujudnya kemajuan di semua bidang kehidupan dan terciptanya keadilan di tengah masyarakat.

REFERENSI

Sumber Buku dan Jurnal :
Abrar, Ana Nadhya. 2005. Penulisan Berita. Edisi kedua. Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya.
Babb, Laura Longley. (ed.). 1977. The Editorial Page. United States of America: Houghton Mifflin/Boston, The Washington Post Company.
Eriyanto. 2010. Analisis Wacana: Pengantar Analisa Teks Media. Edisi ketujuh. Yogyakarta: LKIS.
Hughes, Kirrilee. 2001. Wajah Pers Malang, Laporan Studi Lapangan, tidak diterbitkan, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang bekerjasama dengan Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies.Kleden, Tony, Maria Matildis Banda dan Dion DB Putra (eds). 2007. 15 Tahun Pos Kupang, Suara Nusa Tenggara Timur. Kupang: PT Timor Media Grafika.
Mallarangeng, Rizal. 2010. Pers Orde Baru, Tinjauan Isi Kompas dan Suara Karya. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerja sama dengan Freedom Institue.
O’Donnell, Kevin. 2009. Postmodernisme. Jan Riberu (terj). Yogyakarta: Kanisius.
Oetama, Jacob. 2001. Pers Indonesia, Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Tulus. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Sulhan, Muhamad. 2006. “Kisah Kelabu di Balik Maraknya Pers Lokal di Kalimantan”. Jurnal Ilmu Sosial dan Politik. Yogyakarta: Fisipol UGM. Vol. 9, No. 3, hal. 317-335.
van Dijk, Teun A. 1988. News as Discourse. Hillsdale, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc., Publishers.

Sumber Internet:
Harsono, Andreas. 2006. “Survei tentang Flores Pos dan Pos Kupang.” www.andreasharsono.blogspot.com. Diakses tanggal 17 Oktober 2009.
Holland, Scott T. 2007. The Nature of Editorials. The Clinton Herald,http://www.clintonherald.com/columns/local_story_0391641. html. Diakses tanggal 19 Oktober 2010.

PENULIS: JONAS K.G.D. GOBANG
Program Studi  Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Nipa Maumere, Flores, NTT
Tulisan ini telah dipublikasikan di JURNAL INTEGRITAS