• Beranda
  • Artikel
  • Riset Publik
  • Keahlian Akuntan Forensik dan Pendidikan Akuntansi Forensik di Indonesia

Keahlian Akuntan Forensik dan Pendidikan Akuntansi Forensik di Indonesia

Tujuan utama dari studi ini adalah untuk memahami dan menganalisa keahlian akuntan forensik dan pendidikan akuntansi forensik di Indonesia. Responden dalam studi ini berasal dari 400 mahasiswa pasca-sarjana akuntansi dari universitas terkemuka di Indonesia. Dari 400 responden, sebesar 72.25% memberikan tanggapan atau sebanyak 289 lembar kuesioner yang dikembalikan.

5 skala likert digunakan untuk mengukur respon dari kuisioner, dimulai dari skala 1 untuk tidak penting sampai dengan 5 untuk sangat penting. ANOVA, robust test of equality of means dan tes korelasi digunakan dalam studi ini. Hasil studi ini menunjukkan bahwa responden setuju dengan 5 (lima) keahlian khusus yang harus dimiliki oleh seorang akuntan forensik (keahlian audit, kemampuan investigasi, memiliki intuisi investigasi, kritis/pemikir strategis, serta mampu mengintegrasi hasil analisa dan temuan). Temuan dari studi ini juga menunjukkan bahwa mata kuliah akuntansi forensik sangat penting untuk diajarkan atau diperkenalkan pada tingkat sarjana jurusan akuntansi. Hasil dari studi ini diharapkan dapat memberikan petunjuk dan informasi berharga untuk pendidik, praktisi, pembuat kebijakan dan peraturan, pengacara, lembaga hukum serta pihak lain yang berkaitan dengan pendidikan forensik akuntansi.

PENDAHULUAN

Pendeteksian dan pencegahan kecurangan dalam sektor publik maupun swasta selalu menjadi masalah untuk pihak penegak hukum di seluruh dunia termasuk Indonesia. Sebuah studi memperkirakan kerugian dari semua jenis bentuk kecurangan sebesar 5% (ACFE 2014). Produk bruto dunia pada 2013 sebesar $75,621 triliun (Bank Dunia 2015) mengakibatkan potensi kerugian dunia akibat kecurangan dapat diproyeksikan lebih dari $3,7 triliun. Menurut bank dunia, PDB (Pendapatan Domestik Bruto) Indonesia pada tahun 2013 adalah $868,346 juta, sehingga hal ini memungkinkan Indonesia memiliki potensi kerugian akibat kecurangan lebih dari $43,417 juta. Dalam 2 survei internasional yang mencakup hampir 100 negara menemukan bahwa kecurangan adalah masalah serius bagi seluruh dunia. Selain itu, hasil menunjukkan pola yang sama pada kecurangan di dunia (ACFE 2012, 2014).

Disiplin ilmu akuntansi forensik berkembang seiring meningkatnya tingkat kejahatan, korupsi, kurang berfungsinya pembuat kebijakan atau peraturan, sistem keamanan yang lemah, dan lain-lain. Hal ini juga merupakan indikasi yang menunjukkan peningkatan permintaan akuntan forensik (Mukoro et al. 2013). Akuntan forensik membutuhkan keahlian dan pengetahuan selain pengetahuan akuntansi untuk melaksanakan tugas-tugasnya (Prabowo 2013a; 2013b)

Pusat pelaporan dan analisis transaksi keuangan atau PPATK yang berperan sebagai Unit Intelijen Keuangan Indonesia berhasil membuktikan kepada pengadilan bahwa pelaku yang terlibat dalam penggelapan surat kredit BNI dengan menggunakan metode yang disebut “Ikuti Jejak Uang (follow the money trail)” (PPATK 2004, 2005). “Ikuti Jejak Uang” merupakan bagian dari metode akuntansi forensik (Johnson 2009; Thomas 2010; Cowly 2010; Warshavky 2013).

Investor, para pembuat kebijakan atau peraturan dan pemangku kepentingan lainnya prihatin dengan kesulitan dan kegagalan akuntan dalam mendeteksi dan mencegah kecurangan dalam organisasi. Akibatnya, sekolah tinggi ataupun universitas menerima banyak kritik karena kurangnya pelatihan untuk mendeteksi kecurangan (Jackson et al. 2013). Terdapat tiga faktor penyebab kegagalan para pendidik sehingga memberikan kontribusi terjadinya kecurangan dalam jumlah besar pada laporan keuangan (Albrecht et al. 2012). Pertama, pendidik tidak memberikan pendidikan dan pelatihan etika yang cukup kepada mahasiswa. Kedua, para pendidik tidak mengajarkan tentang kecurangan (fraud). Ketiga, pendidik mengajar calon akuntan dengan tidak menggunakan konten sebagai konteks untuk membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan analisis.

Secara umum, perguruan tinggi dengan jurusan akuntansi mengajarkan dua mata kuliah audit. Beberapa perguruan tinggi telah mengadopsi mata kuliah tambahan yang berkaitan dengan kecurangan seperti akuntansi forensik sebagai akibat dari meningkatnya kecurangan dalam masyarakat. Menurut Meier et al. (2010), perguruan tinggi dengan jurusan akuntansi dan berakreditasi AACSB sangat lambat dalam mengadopsi mata kuliah akuntansi forensik dan pemeriksaan kecurangan.

Tujuan dari studi ini adalah untuk menyelidiki berapa banyak harapan responden terhadap pendidikan akuntansi forensik dan keahlian khusus yang harus dimiliki oleh akuntan forensik. Tujuan berikutnya adalah untuk menyimpulkan pendapat apakah dalam pendidikan forensik akuntansi memerlukan pelatihan profesional dan sertifikasi.

Para responden yang cocok adalah mahasiswa pasca-sarjana akuntansi, seperti yang diketahui bahwa mahasiswa di tingkat pasca-sarjana akuntansi mungkin memiliki beberapa pengalaman kerja serta memiliki kemampuan dan keahlian akuntansi dibandingkan dengan mahasiswa di tingkat sarjana akuntansi (Italia 2012). Para responden dalam studi ini adalah mahasiswa pasca-sarjana jurusan akuntansi dari perguruan tinggi terkemuka di Jakarta. Kuesioner digunakan sebagai pengumpulan data untuk mengetahui persepsi pendidikan akuntansi forensik beserta keahlian khusus yang harus dimiliki akuntan forensik.

Bagian-bagian dalam studi ini diatur sebagai berikut. Setelah bagian pendahuluan, selanjutnya adalah tinjauan pustaka tentang studi empiris akuntansi forensik. Bagian ketiga menguraikan metodologi penelitian. Bagian keempat menerangkan hasil dan pembahasan. Bagian kelima memberikan kesimpulan dan pembatasan studi.

Studi Empiris Akuntansi Forensik

Kecurangan yang tidak ada habisnya membuat meningkatnya permintaan pelayanan dalam penyelidikan kecurangan, oleh karena itu akuntan forensik sangat diperlukan. Terdapat tiga elemen mendasar yang diperlukan oleh akuntan forensik yakni mental, metode dan pengalaman. Perguruan tinggi dipandang memiliki posisi strategis untuk memfasilitasi pencapaian elemen-elemen tersebut melalui pendidikan (Prabowo 2013b)

Akuntansi forensik telah dikenal dalam profesi akuntansi bertahun-tahun yang lalu, akan tetapi, baru dikenal luas ketika terjadi skandal keuangan yang besar di dunia (seperti Enron, WorldCom, Global Crossing, dll) dalam rentang tahun 2000-2002 dan merubah persepsi/penilaian terhadap profesi akuntansi. Dengan demikian, pengajaran kecurangan dan akuntansi forensik untuk mahasiswa bisnis sangatlah penting (Jackson et al. 2013). Mata kuliah akuntansi forensik akan memungkinkan mahasiswa untuk melihat bagaimana pelaku kecurangan mengalami tekanan untuk mengambil keuntungan terhadap kesempatan pada perusahaan tertentu yang mungkin penting bagi perusahaan tersebut (Carpenter 2011).

Pentingnya akuntansi forensik dalam memerangi kecurangan seperti tindak pidana pencucian uang dan korupsi telah terlihat pada beberapa studi akuntansi forensik. Penerapan terhadap pola pikir dan keahlian akuntansi forensik sangat penting untuk mencegah, mendeteksi dan menanggapi kecurangan pada kinerja tugas terhadap penilaian resiko tindak kejahatan kecurangan di sektor publik Malaysia dan Nigeria (Popoola et al. 2014a; Popoola et al. 2014b). Akuntansi forensik dapat mencegah dan membatasi cakupan kecurangan, sebagai hasil dari studi; ditemukan adanya pengaruh penggunaan akuntansi forensik dalam mendeteksi kasus-kasus korupsi keuangan (Alabdullah et al. 2014). Akuntansi forensik telah di terapkan untuk mengungkap dan mengurangi kejahatan di negara-negara seperti Inggris, Kanada, Jerman dan Amerika (Gbegi dan Adebisi 2014). Permintaan akan layanan akuntansi forensik meningkat selama beberapa tahun terakhir, dan diperkirakan bahwa perusahaan dan firma hukum akan membangkan secara internal kemampuan akuntansi forensik daripada mengandalkan secara eksklusif pada pihak ketiga (Henning and Misuraca 2013).

Akuntan forensik adalah akuntan yang terdaftar dan bersertifikat akuntan yang telah memperoleh pendidikan tambahan atau sertifikasi sebagai pemeriksa kecurangan atau sebagai seorang akuntan forensik. Anggota dari International Federation of Accountants (IFAC) seperti American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) dan Chartered Professional Accountants of Cananda (CPA Canada) dimana anggotanya yang memenuhi syarat harus memiliki Certified in Financial Forensic (CFF) untuk dapat menjadi seorang akuntan forensik. Secara internasional, sebagai organisasi anti kecurangan dunia, Association of Certified Examination (ACFE) menyediakan sertifikasi untuk kecurangan yang dikenal dengan Certified Fraud Examiner (CFE) (Singleton and Singleton 2010). Akuntan forensik akan menggunakan pengetahuannya di bidang akuntansi, audit dan hukum, investigasi dan kriminologi untuk mengungkap kecurangan, menemukan bukti dan menyampaikan bukti tersebut ke pengadilan, jika dibutuhkan.

Kita dapat membedakan dua perbedaan utama antara auditor dan akuntan forensik. Studi lain telah membuat perbedaan antara akuntan forensik dan audit. Mengungkapkan pendapat pada keakuratan dan kelengkapan laporan keuangan adalah tujuan audit, sedangkan tujuan akuntansi forensik adalah pengumpulan data keuangan yang sistematis untuk menganalisa dan menginterpretasikan masalah keuangan yang kompleks dan untuk menanggapi keluhan yang timbul dari masalah-masalah pidana, perdata dan pertanyaan lainnya yang timbul dari penyelidikan maupun yang bersumber pada penyelidikan terhadap suatu perusahaan (Smith 2012). Akuntan forensik memberikan skeptisisme professional dan kemampuan analisis untuk melihat melampaui angka yang disajikan untuk menyelidiki dan menemukan maksud sebenarnya dari transaksi, sebaliknya, fokus audit adalah untuk menentukan apakah laporan keuangan perusahaan disajikan dengan wajar tanpa ada salah saji yang material (Warshacsky 2013). Audit dilakukan untuk membantu dalam penerapan strategi manajemen untuk mencapai tujuan serta memberikan laporan keuangan yang benar dan adil dalam lingkungan bisnis kepada pemangku kepentingan untuk mengambil keputusan, sedangakan akuntansi forensik dilakukan untuk menyelidiki penyimpangan atau kecurangan dan pengukuran dampak (Imoniana et al. 2013). Audit menemukan laporan salah saji sedangkan akuntansi forensik memeriksa atau menganalisa salah saji secara mendalam (Kushnirof 2012). Akuntansi forensik dapat dilakukan jika auditor memiliki kecurigaan adanya penyimpangan dan salah saji yang disengaja dalam laporan keuangan (Italia 2012).

Prosedur utama dalam akuntansi forensik lebih menekankan pada teknik wawancara yang mendalam dan analisis data walaupun seringkali menggunakan teknik audit umum seperti pengecekan rekonsiliasi, konfirmasi dan sebagainya. Akuntansi forensik memfokuskan pada segmen tertentu misalnya pemasukan dan pengeluaran yang di curigai telah terjadi tindak kecurangan atau korupsi baik dari laporan pihak dalam atau orang ketiga (tip off) atau petunjuk terjadinya kecurangan (red flag) dan petunjuk lainnya.

Akuntan forensik bertugas untuk mengumpulkan bukti untuk mengetahui keabsahan transaksi akuntansi yang kompleks.. Akuntan forensik dapat memberikan pendapat hukum dalam pengadilan. Akuntansi forensik adalah penggunaan keahlian di bidang akuntansi, audit, hukum yang dipadu dengan kemampuan investigatif untuk memecahkan suatu masalah atau sengketa keuangan atau dugaan kecurangan yang pada akhirnya akan diputuskan oleh pengadilan/arbitrase/tempat penyelesaian perkara lainnya. Kasus korupsi pada dasarnya adalah sengketa keuangan antara negara dengan warganya yang secara resmi telah ditunjuak untuk mengelola pemerintahan. Sengketa tersebut harus diselidiki kebenarannya oleh lembaga negara (misalnya KPK) dan di putuskan oleh hakim di pengadilan.

METODE PENELITIAN

Pendistribusian Kuesioner dilakukan di empat perguruan tinggi yang terletak di Jakarta dan daerah sekitarnya. Perguruan tinggi tersebut adalah Universitas Indonesia, Universitas Trisakti, Universitas Tarumanegara dan Universitas Budi Luhur. Mahasiswa yang menjadi responden adalah mahasiswa pasca-sarjana akuntansi. Kuesioner ini dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai pandangan mahasiswa pasca-sarjana akuntansi tentang akuntansi forensik di Indonesia. Kuesioner yang diberikan terdiri dari pertanyaan dan beberapa pertanyaan pilihan.

Jawaban kuesioner yang diterima diolah menggunakan perangkat lunak non-statistik dan statistik seperti SPSS (Statistical Package for Social Science) dan spreadsheet.

Kuesioner dan Permasalahan

Kuesioner telah di uji sebelumnya melalui ulasan dan umpan balik dari 10 dosen dan 10 mahasiswa. Pada kuesioner telah dilakukan revisi minor sesuai dengan koreksi dan versi terakhir telah dibuat berdasarkan ulasan dan komentar yang diterima dari para dosen dan mahasiswa. Pertanyaan pada kuesioner meminta pendapat tentang pendidikan akuntansi forensik di perguruan tinggi mereka dan pendidikan profesi professional lainnya. Selain itu, bagian dari kuesioner juga mempertanyakan pertanyaan tentang keahlian khusus akuntan forensik dari studi sebelumnya yang dilakukan (Davis et al. 2010) dan memasukkan pertanyaan tersebut dalam pra uji Kuesioner. Pertanyaan tersebut dimasukan karena dianggap memberikan pilihan yang lebih bervariasi tentang keahlian khusus yang harus dimiliki oleh akuntan forensik. Kuesioner tentang bisnis atau layanan yang mungkin memerlukan akuntansi forensik juga dipertanyakan. Terakhir, untuk membantu dalam menganalisa hasil dari responden, informasi demografis juga di minta.

Pertanyaan yang akan di jawab adalah

  • Apa sajakah keahlian khusus yang harus dimiliki oleh akuntan forensik?
  • Apakah ada perbedaan preferensi antar kelompok dalam hal pentingnya akuntansi forensik untuk dimasukkan ke dalam kurikulum akuntansi?
  • Bagaimana pandangan antar kelompok mengenai peran perguruan tinggi dan organisasi lainnya dalam memperkenalkan dan mengembangkan akuntansi forensik di Indonesia?

Jawaban dapat diperoleh dengan menganalisa preferensi setiap kelompok.

Hipotesa

  • H1: Ada perbedaan yang signifikan pada cara pandang terhadap pendidikan akuntansi forensik berdasarkan latar belakang pendidikan
  • H2: Ada perbedaan yang signifikan pada cara pandang terhadap pendidikan akuntansi forensik berdasarkan pengalaman kerja

Tujuan Penelitian

Studi ini bertujuan untuk menyelidiki apakah ada perbedaan preferensi dalam pendidikan akuntansi forensik serta peran perguruan tinggi dan badan profesional lainnya dalam pengembangan akuntansi forensik. Berikutnya, untuk mengetahui keahlian khusus yang harus dimiliki oleh akuntan forensik serta mengetahui pengguna layanan akuntan forensik. Oleh karena itu, studi ini akan mampu mengidentifikasi perkembangan pendidikan akuntansi forensik di Indonesia.

Pengumpulan Data

Empat perguruan tinggi telah dikunjungi untuk penyebaran kuesioner. Penyebaran kuesioner berlangsung di dalam kelas selama waktu istirahat dengan dan tanpa kehadiran peneliti. 400 mahasiswa pasca-sarjana akuntansi terlibat untuk menjawab kuesioner yang telah dipersiapkan dan dibagikan. Mahasiswa pasca-sarjana akuntansi berasal dari perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesi akuntan dan mendapatkan pengakuan serta bekerja sama dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan juga telah terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Beberapa perguruan tinggi tidak mengizinkan peneliti untuk memasuki kelas dan dilakukan pada jam istirahat, sebagai akibatnya, sebagian target responden tidak menjawab kuesioner karena beberapa alasan.

400 kuesioner telah disebarkan ke mahasiswa pasca-sarjana akuntansi di empat perguruan tinggi terkemuka. Tabel 1, menunjukkan tingkat respon sebesar 72.25% dari total sebanyak 289 kuesioner yang dijawab dan dikembalikan. Sedangkan sisa sebanyak 27.75% merupakan tingkat respon yang tidak dikembalikan. Dalam situasi dimana peneliti mendistribusikan dan memonitor kuesioner di ruang kelas, maka memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dalam hal pengembalian kuesioner. Sebaliknya, ketidakhadiran peneliti dalam mendistribusikan dan memonitor kuesioner di ruang kelas menyebabkan tingkat keberhasilan yang rendah dalam hal pengembalian kuesioner. Beberapa responden memindai kuesioner dan mengirim jawaban kuesioner mereka ke alamat email tertentu. Tingkat respon sebesar 72.25% merupakan tingkat yang wajar dan baik untuk digunakan untuk memahami pandangan responden mengenai pendidikan akuntansi forensik serta baik untuk menarik kesimpulan yang absah dalam studi ini.

Tabel 1 Ringkasan dari Tingkat Respon

Total Kuesioner 400
Kuesioner yang di kembalikan 289
Kuesioner yang tidak dikembalikan 111
Tingkat respon 72.25%

HASIL DAN PEMBAHASAN

Profil demografi dari responden disajikan pada tabel 2. Data untuk latar belakang pendidikan responden terdiri dari 83.04% dari akuntansi, 2.08% dari pajak, 3.81% dari keuangan dan 11.07% dari disiplin ilmu lain. 83.04% berlatar belakang pendidikan akuntansi menunjukkan bahwa pendidikan profesi akuntan dihormati oleh para akuntan dalam melakukan studi tambahan.

Tempat kerja adalah sebuah proses pembelajaran bagi profesional muda untuk memperoleh pengetahuan profesional (Koklarova dan Pauknerova 2013). Data menunjukkan responden yang telah memiliki pengalaman di bidang akuntansi adalah 38.06% memiliki pengalaman kerja 0-24 bulan, 29.76% memiliki pengalaman kerja 25-60 bulan dan 32.18% memiliki pengalaman kerja lebih dari 60 bulan. 38.06% responden yang memiliki pengalaman di bawah 24 bulan menunjukkan bahwa responden memiliki pemahan pengetahuan akuntansi yang cukup dan 61.94% menunjukkan bahwa responden memiliki paparan pengetahuan akuntansi yang lebih luas.

Tabel 2 Profil Demografi Responden

demografi

Sampel dan analisa data

Dalam studi ini, para responden diminta untuk menjawab kuesioner yang terdiri dari 6 pertanyaan dan dikelompokkan menjadi 3 bagian. Kelompok pertama, ada dua pertanyaan tentang latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja. Kelompok kedua, satu pertanyaan untuk memilih lima keahlian khusus yang harus dimiliki oleh seorang akuntan forensik. Kelompok ketiga, ada tiga pertanyaan berkaitan dengan pendidikan akuntansi forensik yang ditentukan dengan skala Likert dengan angka skor 1 menunjukkan tidak penting sampai dengan angka skor 5 menunjukkan sangat penting.

Bounded two-tailed test pada tingkat 0.05 untuk semua inferial analisis pada uji statistik. Uji reliabilitas telah dilakukan dengan hasil menunjukkan bahwa cronbach alpha sebesar 0.652 dengan nilai F sebesar 19.651 dan sig 0.00, sehingga bisa dikatakan reliabel. Analisis varian satu faktor (ANOVA) diterapkan untuk membandingkan mahasiswa pasca-sarjana terhadap latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja. Robust tests of equality of means juga digunakan untuk memastikan keseragaman asumsi varian. Tes korelasi dilakukan untuk mencari hubungan antara tiga pertanyaan yang menggunakan skala Likert. Statistik diskriptif digunakan untuk menggambarkan pandangan setiap kelompok.

Keahlian khusus akuntansi forensik

Frekuensi digunakan untuk menganalisa pandangan keahlian khusus akuntan forensik. Frekuensi dianalisis dengan membandingkan keahlian khusus yang paling sering dipilih antara 17 pilihan keahlian khusus akuntan forensik.

Persentase dan peringkat tentang keahlian khusus akuntansi forensik dirangkum dan di tampilkan pada tabel 3. Hasilnya disajikan secara berurut adalah sebaga berikut: keahlian audit, kemampuan investigasi, memiliki intuisi investigasi, kritis/pemikir strategis, serta mengintegrasi hasil analisa dan temuan. Para responden tidak memperingkatkan pilihan keahlian khusus 1-5, tetapi lebih memilih lima dari seluruh keahlian khusus yang dianggap paling penting tanpa melakukan peringkatan. Interpretasi dalam tabel 3 menunjukkan nilai 87.54% untuk keahlian audit yang berarti bahwa 87.54% responden memberikan peringkat pertama untuk keahlian audit sebagai keahlian utama dalam 5 besar keahlian khusus akuntansi forensik.

Tabel 3 Peringkat dari Keahlian Khusus Akuntansi Forensik (Sampel (n=289))

  Peringkat Responden Persentase (%) Persentase Rata-rata
Keahlian Audit  1 235  87.54  17.51
Kemampuan Investigasi  2 193 66.78  13.36
Memiliki Intuisi Investigasi  3  171 59.27 11.83
Kritis/Pemikir Strategis  4 166 57.44  11.49
Mengintegrasi hasil analisa penemuan  5 117  40.48  8.1
Keahlian Penelitian  6 95  32.87  6.57
Cara pandang yang comprehensif  7 92 31.84  6.31
Identifikasi isu kunci  8  61  21.11  4.22
Penyelesaian Masalah Terstruktur  9  51  17.65  3.53
Berkomunikasi Oral dengan Efektif  10  50  17.3  3.46
Memahami Tujuan Kasus  11  48 16.61  3.32
Berfikir seperti pelaku kejahatan  12  47 16.26  3.25
Mengorganisir situasi tidak terduga  13 31  10.73  2.14
Penyelesaian masalah tidak terstruktur  14  30  10.38  2.08
Penyederhanaan Informasi  15  22 7.61  1.52
Berkomunikasi Tertulis secara Efektif  16  13  4.5  0.9
Penyampaian cerita  17  5  1.73  0.35

Tabel 3 menunjukkan hasil bahwa keahlian audit merupakan keahlian yang terpenting dalam akuntansi forensik dan terpilih sebanyak 87.54% jauh lebih tinggi daripada keahlian lainnya. Kemampuan investigasi, intuisi investigasi, kritis/pemikir strategis dan integrasi hasil analisa dan penemuan dipilih setelah keahlian audit. Dengan demikian, studi ini memiliki kemiripan serupa dengan studi sebelumnya yang dilakukan terhadap pendidik akuntansi, akuntan forensik dan auditor yang percaya bahwa prosedur akuntansi forensik sejalan dengan proses audit yang merupakan teknik dasar akuntansi forensik sehingga dengan mudah teknik tersebut dapat digunakan dalam proses audit (DiGabriele 2011)

Hasil dari studi ini yang menunjukkan bahwa keahlian audit sebagai keahlian dengan prioritas utama menunjukkan hasil yang berbeda dibandingkan dengan studi sebelumnya yang diadakan di Indonesia (Astutie dan Utami 2013) dimana menyepakati bahwa keahlian yang relevan untuk akuntan forensik secara berurutan adalah mampu mengintegrasi hasil analisa dan penemuan, kritis/pemikir strategis, investigasi yang fleksibel, serta memiliki pemahaman dan pengetahuan hukum. Responden, metode pengumpulan data, dan metode statistik yang berbeda mungkin menjadi faktor penyebab hasil yang berbeda. Pemikir kritis serta mampu mengintegrasi hasil analisa dan penemuan merupakan keahlian penting yang harus dimiliki oleh akuntan forensik, dan merupakan hasil yang sama dalam studi ini.

Keahlian khusus lainnya seperti identifikasi isu utama, penyelesain masalah terstruktur dan berkomunikasi oral dengan efektif berada pada peringkat tengah. Responden percaya bahwa keahlian khusus tersebut penting untuk dimiliki oleh akuntan forensik. Keahlian untuk mengidentifikasi masalah atau isu permasalahan akan membantu seorang akuntan forensik untuk memecahkan masalah dan mengkomunikasikan dengan oral secara efektif melalui pemikiran kritis/strategis yang merupakan keahlian khusus di peringkat 5 terbaik.

Keahlian khusus yang kurang sering dipilih adalah penyederhanaan informasi, berkomunikasi tertulis secara efektif dan penyampaian cerita. Keahlian tersebut mungkin dapat dianggap sebagai keahlian komunikasi yang memungkinkan akuntansi forensik untuk mengkomunikasikan hasil dari masalah yang telah dipecahkan. Sebagai keahlian komunikasi yang efektif dapat membantu akuntan forensik untuk melakukan keahlian khusus lainnya seperti mengintegrasi hasil analisa dan penemuan. Hasil studi ini yang menunjukkan keahlian khusus yang jarang dipilih berkaitan dengan hasil studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa diperlukan pelatihan yang berkelanjutan bagi profesi akuntan untuk meningkatkan dan memperkuat latihan menulis (Bawaneh 2011). Oleh karena itu, keahlian komunikasi dianggap lebih rendah dari keahlian audit, kemampuan investigasi, memiliki intuisi investigasi, kritis/pemikir strategis dan mengintegrasi hasil analisa dan penemuan.

Pendidikan Akuntansi Forensik

Dalam studi ini, mahasiswa pasca-sarjana akuntansi diminta untuk menilai tingkat pentingnya pendidikan akuntansi forensik di perguruan tinggi dan badan profesi lainnya. Rata-rata, standar deviasi dan standar error di sajikan pada tabel 4. Kuesioner dinilai dengan skala Likert dimulai dari 1 untuk tidak penting sampai dengan 5 untuk sangat tidak penting. Skala penilaian ini dilakukan berdasarkan perbedaan latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja yang dimiliki oleh responden.

Pertanyaan dibagi menjadi tiga kelompok pertanyaan. Kelompok pertama, dimaksudkan untuk mengidentifikasi apakah responden berpendapat bahwa mata kuliah akuntansi forensik penting untuk dimasukkan ke dalam kurikulum di tingkat sarjana. Selanjutnya, hal ini dijelaskan dengan istilah “UNDERGRAD”. Kelompok kedua, dimaksudkan untuk mengidentifikasi apakah responden berpendapat bahwa akuntansi forensik belum mendapat perhatian yang serius dari pihak perguruan tinggi. Selanjutnya, hal ini dijelaskan dengan istilah “UNI”. Kelompok ketiga, dimaksudkan untuk mengidentifikasi apakah responden berpendapat bahwa akuntan forensik memerlukan pendidikan profesional tambahan dan sertifikasi. Selanjutnya, hal ini dijelaskan dengan istilah “TRAIN”.

Tabel 4 Rata-rata, Standar Deviasi, Standar Error Antar Kelompok

tabel standar deviasi

Tabel 4 menunjukkan hasil bahwa dibagian “UNDERGRAD” adalah kelompok dengan pengalaman kerja 0-24 bulan memiliki rata-rata sebesar 3.8636 dan standar deviasi sebesar 0.84024, kelompok dengan pengalaman kerja 25-60 bulan memiliki rata-rata sebesar 3.9195 dan standar deviasi sebesar 0.85206 dan kelompok dengan pengalaman kerja lebih dari 60 bulan memiliki rata-rata sebesar 3.8043 dan standar deviasi 1.13136. Kelompok dengan latar belakang pendidikan akuntansi memiliki rata-rata sebesar 3.9125 dan standar deviasi sebesar 0.93996. Kelompok terakhir dengan latar belakang pendidikan non akuntansi memiliki rata-rata sebesar 3.6122 dan standar deviasi sebesar 0.93131. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semua kelompok memiliki rata-rata mendekati angka 4 dari 5 skala Likert, hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa pasca-sarjana akuntansi berpendapat mata kuliah akuntansi forensik harus dimasukkan dalam kurikulum pendidikan di tingkat sarjana.

Hasil kedua yang ditunjukkan dibagian “UNI” adalah kelompok dengan pengalaman kerja 0-24 bulan memiliki rata-rata sebesar 3.8545 dan standar deviasi sebesar 0.72740, kelompok dengan pengalaman kerja 25-60 bulan memiliki rata-rata sebesar 3.8736 dan standar deviasi sebesar 0.72824 dan kelompok dengan pengalaman kerja lebih dari 60 bulan memiliki rata-rata sebesar 3.8913 dan standar deviasi 0.85750. Kelompok dengan latar belakang pendidikan akuntansi memiliki rata-rata sebesar 3.8833 dan standar deviasi sebesar 0.78887. Kelompok terakhir dengan latar belakang pendidikan non akuntansi memiliki rata-rata sebesar 3.8163 dan standar deviasi sebesar 0.66688. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semua kelompok memiliki rata-rata mendekati angka 4 dari 5 skala Likert, hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa pasca-sarjana akuntansi berpendapat akuntansi forensik belum mendapatkan perhatian serius dari pihak perguruan tinggi.

Hasil ketiga yang ditunjukkan dibagian “TRAIN” adalah kelompok dengan pengalaman kerja 0-24 bulan memiliki rata-rata sebesar 4.2091 dan standar deviasi sebesar 0.75535, kelompok dengan pengalaman kerja 25-60 bulan memiliki rata-rata sebesar 4.1609 dan standar deviasi sebesar 0.80512 dan kelompok dengan pengalaman kerja lebih dari 60 bulan memiliki rata-rata sebesar 4.2935 dan standar deviasi 0.84565. Kelompok dengan latar belakang pendidikan akuntansi memiliki rata-rata sebesar 4.2500 dan standar deviasi sebesar 0.78958. Kelompok terakhir dengan latar belakang pendidikan non akuntansi memiliki rata-rata sebesar 4.0816 dan standar deviasi sebesar 0.83757. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semua kelompok memiliki rata-rata diatas angka 4 dari 5 skala Likert, hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa pasca-sarjana akuntansi berpendapat akuntan forensik memerlukan pendidikan profesional tambahan dan sertifikasi.

Hasil secara keseluruhan pada bagian UNDERGRAD, UNI dan TRAIN dengan berurutan memiliki rata-rata (mean) sebesar 3.8616, 3.8720 dan 4.2215 yang berarti bahwa semua kelompok memiliki pandangan yang sama dalam memahami pentingnya akuntansi forensik untuk dimasukan dalam kurikulum ditingkat sarjana dan meminta pihak perguruan tinggi untuk memberikan perhatian yang lebih serius pada akuntansi forensik. Selain itu, untuk menjadi seorang akuntan forensik yang profesional, responden setuju bahwa perlu adanya tambahan pelatihan khusus dan bersertifikat sebelum memberikan layanan akuntansi forensik.

Analisa Inferial

Analisis varian satu faktor (ANOVA) dilakukan untuk melihat apakah tiga kelompok berdasarkan pengalaman kerja (0-24 bulan, 25-60 bulan dan diatas 60 bulan) dan kelompok berdasarkan latar belakang pendidikan (akuntansi dan non akuntansi) memiliki perbedaan preferensi dalam penilaiannya terhadap pendidikan akuntansi forensik. Robust test of equality of mean dilakukan untuk mengkonfirmasi asumsi keseragaman varian.

Pada tabel 5 menyajikan nilai rata-rata (mean) tentang pendidikan akuntansi forensik berdasarkan pandangan dari kelompok berpengalaman kerja. Table 5 juga menyajikan nilai rata-rata tentang pendidikan akuntansi forensik berdasarkan pandangan dari kelompok berlatar belakang pendidikan. Selanjutnya pada tabel 6, menunjukkan test lanjutan berupa robust test of
equality of mean antara kelompok berpengalaman kerja. Tabel 6 juga menunjukkan test lanjutan berupa robust test of equality of mean antara kelompok berlatar belakang pendidikan.

Uji pertama pada ANOVA dilakukan untuk UNDERGRAD yang secara statistik menunjukkan hasil yang tidak signifikan di antara kelompok berpengalaman kerja dengan F sebesar 0.332 dan Sig sebesar 0.718 serta memberikan hasil yang signifikan di antara kelompok berlatar pendidikan berbeda dengan nilai F sebesar 4.163 dan Sig sebesar 0.042. Uji statistik lanjutan dilakukan untuk mengkonfirmasi atau mendukung hasil dari ANOVA.

Robust test of equality of mean memiliki nilai Sig 0.721 untuk kelompok berlatar belakang pengalaman kerja berbeda pada kategori UNDERGRAD karena p>0.05 menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Robust test of equality of mean memiliki nilai Sig 0.044 untuk kelompok berlatar belakang pendidikan berbeda pada kategori UNDERGRAD, karena p<0.05 menunjukkan hasil yang signifikan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tiga kelompok berpengalaman kerja berbeda memiliki pandangan yang sama agar akuntansi forensik harus dimasukkan kedalam kurikulum pendidikan ditingkat sarjana, H2 ditolak. Sebaliknya, berdasarkan latar belakang pendidikan yang berbeda, responden dengan latar belakang pendidikan selain sarjana akuntansi memandang bahwa akuntansi forensik tidak harus dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan ditingkat sarjana, H1 diterima. Perbedaan pandangan tersebut mungkin terjadi karena responden yang bukan sarjana akuntansi mendapatkan pendidikan akuntansi lebih sedikit dibandingkan sarjana akuntansi. Penambahan mata kuliah akuntansi forensik ke dalam kurikulum pendidikan akuntansi ditingkat sarjana sejalan dengan studi sebelumnya yang menyatakan. Saat ini pendidikan akuntansi yang terstruktur sudah ketinggalan jaman dan membutuhkan modifikasi yang signifikan, dianjurkan bahwa kurikulum akuntansi juga mencakup layanan profesional seperti akuntansi forensik dan mata kuliah lainnya untuk memungkinkan beberapa spesialisasi (Seda & Kramer 2014).

Uji kedua pada ANOVA dilakukan untuk UNI yang secara statistik menunjukkan hasil yang tidak signifikan di antara kelompok berpengalaman kerja dengan F sebesar 0.057 dan Sig sebesar 0.944 dan memberikan hasil yang signifikan di antara kelompok berlatar pendidikan berbeda dengan nilai F sebesar 0.308 dan Sig sebesar 0.579. Robust test of equality of mean memiliki nilai Sig 0.945 untuk kelompok berlatar belakang pengalaman kerja berbeda pada kategori UNI. Robust test of equality of mean memiliki nilai Sig 0.537 untuk kelompok berlatar belakang pendidikan berbeda pada kategori UNI. Hasil menunjukkan p>0.05 sehingga menunjukkan hasil yang tidak signifikan. H1 dan H2 ditolak. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semua kelompok yang memiliki pengalaman kerja berbeda dan latar belakang pendidikan berbeda memiliki pandangan yang sama tentang akuntansi forensik belum mendapat perhatian serius dari pihak perguruan tinggi.

Uji ketiga pada ANOVA dilakukan untuk TRAIN yang secara statistik menunjukkan hasil yang tidak signifikan di antara kelompok berpengalaman kerja dengan F sebesar 0.635 dan Sig sebesar 0.531 dan memberikan hasil yang signifikan di antara kelompok berlatar pendidikan berbeda dengan nilai F sebesar 1.812 dan Sig sebesar 0.179. Robust test of equality of mean memiliki nilai Sig 0.534 untuk kelompok berlatar belakang pengalaman kerja berbeda pada kategori TRAIN. Robust test of equality of mean memiliki nilai Sig 0.200 untuk kelompok berlatar belakang pendidikan berbeda pada kategori TRAIN. Hasil menunjukkan p>0.05 sehingga menunjukkan hasil yang tidak signifikan. H1 dan H2 ditolak. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semua kelompok yang memiliki pengalaman kerja berbeda dan latar belakang pendidikan berbeda memiliki pandangan yang sama tentang seorang akuntan forensik membutuhkan pelatihan profesional dan seritifikasi.

Analisis selanjutnya dilakukan dengan menggunakan Pearson Correlation Coefficient untuk mengukur korelasi linier atau ketergantungan antara tiga pertanyaan kuesioner pada UNDERGRAD, UNI, dan TRAIN.

Pada tabel 7 menyajikan hasil statistik untuk korelasi antara UNDERGRAD, UNI dan TRAIN. UNDERGRAD dan UNI memiliki korelasi koefisien 0.286. UNI dan TRAIN memiliki korelasi koefisien 0.297. UNDERGRAD dan TRAIN memiliki korelasi koefisien 0.165. Korelasi koefisien tersebut berarti bahwa pendidikan akuntansi forensik memiliki korelasi signifikan yang moderate sehingga penting untuk akuntansi forensik untuk dimasukkan pada pendidikan akuntansi di tingkat sarjana dan perguruan tinggi harus mendukung keberadaannya di tingkat sarjana. Lebih lanjut, pelatihan profesional dan sertifikasi untuk akuntansi forensik akan meningkatkan pengetahuan dan keahlian akuntan forensik sebagai kelanjutan dari pendidikan sebelumnya.

Tabel 5 Analisa Varian Satu Faktor ( ANOVA)

undergrad

Tabel 6 Robust Test of Equality of Means

undergrad 2

Tabel 7 Korelasi

undergrad 3

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pandangan responden terhadap pendidikan akuntansi forensik di Indonesia. Di duga salah satu faktornya adalah mata kuliah akuntansi forensik tidak ditawarkan secara umum pada tingkat sarjana, tidak seperti mata kuliah audit.

Secara umum, mahasiswa pasca-sarjana akuntansi percaya bahwa pendidikan akuntansi forensik sangat penting untuk dilaksanakan di perguruan tinggi di Indonesia. Selain itu, pelatihan profesional dan sertifikasi diperlukan untuk mengembangkan pengetahuan dan keahlian dari akuntan forensik. Dengan dimasukkannya akuntansi forensik kedalam kurikulum maka tindak pidana keuangan khususnya korupsi akan berkurang. Ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Alabdullah et al. (2014) yang mengatakan bahwa metode akuntansi forensik akan dapat membantu membongkar dan mendeteksi kasus korupsi. studi juga merekomendasikan agar pendidikan akuntansi forensik di masukkan dalam kurikulum, sehingga dapat mengurangi tindak pidana korupsi di masa yang akan datang.

Hasil studi yang dilakukan oleh Chi-Chi dan Ebimobowei (2012), terhadap 24 bank di Negeria menunjukkan pengimplementasian akuntansi forensik dapat menurunkan tingkat kejahatan keuangan seperti halnya korupsi. studi lanjutan terhadap 21 bank komersial dilakukan di Nigeria oleh Temitope (2014) menunjukkan bahwa penggunaan akuntansi forensik dapat meningkatkan transparansi pada bank komersial dan menurunkan tingkat kecurangan sehingga keuntungan meningkat. Di Amerika, Federal Bureau of Investigation atau lebih dikenal dengan FBI menempatkan para ahli akuntansi forensik di setiap kantor perwakilannya. Adapun beberapa kasus korupsi besar yang ditangani FBI dengan menggunakan akuntansi forensik adalah kasus korupsi jaminan kesehatan medicare sebesar US $200 juta, kasus insider trading yang menyebabkan pelaku meraup keuntungan lebih dari US $50 juta dan kasus korupsi yang menyebabkan kerugian sebesar US $200 juta yang dilakukan oleh tiga petinggi perusahaan keuangan di distrik Indiana (FBI, 2012).

KESIMPULAN DAN PEMBATASAN

Hasil dari studi ini didasarkan pada kuesioner yang disebarkan dan dijawab oleh mahasiswa pasca-sarjana akuntansi tentang pendidikan akuntansi forensik di Indonesia. Hasil dari keseluruhan sampel menunjukkan tiga pandangan umum mahasiswa pasca-sarjana akuntansi tentang pendidikan akuntansi forensik di Indonesia.

Pertama, keahlian khusus akuntansi forensik harus dimiliki oleh akuntan forensik. Hasil menunjukkan bahwa keahlian khusus akuntan forensik yang paling utama dan harus dimiliki oleh akuntan forensik adalah keahlian audit. Hasil ini mencerminkan bahwa keahlian audit dipandang sebagai keahlian terpenting sebelum menjadi akuntan forensik karena sebagai pengetahuan dasar dalam akuntansi forensik. Secara keseluruhan urutan untuk keahlian khusus akuntan forensik adalah sebagai berikut keahlian audit dengan 87.54%, kemampuan investigasi dengan 66.78%, intuisi investigasi dengan 59.17%, kritis/pemikir strategis dengan 57.44% dan mengintegrasi hasil analisa dan penemuan dengan 40.48%.

Kedua, hasil menunjukkan semua kelompok berlatar belakang pengalaman kerja (1-24 bulan, 25-60 bulan, dan lebih dari 60 bulan) dan berlatar belakang pendidikan memiliki pandangan yang sama bahwa sangat penting untuk forensik akuntansi dimasukkan kedalam kurikulum pendidikan akuntansi ditingkat sarjana. Selanjutnya, pihak perguruan tinggi harus memberikan perhatian yang serius terhadap akuntansi forensik. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata (mean) pada UNDERGRAD dan UNI adalah 3.8616 dan 3.8720. Namun, uji coba yang dilakukan menggunakan ANOVA sebagai analisis inferensial menemukan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada kelompok berlatar belakang pendidikan. Responden dengan latar belakang sarjana akuntansi setuju untuk memasukkan mata kuliah akuntansi forensik ditingkat sarjana, dan sebaliknya responden dengan latar belakang selain sarjana akuntansi tidak setuju untuk memasukkan mata kuliah akuntansi forensik ditingkat sarjana. Hal ini diyakini mungkin disebabkan oleh seberapa dalam tingkat pendidikan akuntansi yang diperoleh sebelum mengambil studi di pasca-sarjana akuntansi. Dengan demikian, mungkin responden yang tidak berlatar belakang pendidikan akuntansi merasa terlalu dini untuk mengenalkan akuntansi forensik ditingkat sarjana. Adapun semua kelompok setuju agar pihak perguruan tinggi harus memberikan perhatian yang serius terhadap akuntansi forensik.

Ketiga, hasil menunjukkan semua kelompok berlatar belakang pengalaman kerja dan berlatar belakang pendidikan memiliki pandangan yang sama bahwa sangat penting untuk seorang akuntan forensik menempuh pelatihan profesional dan sertifikasi sebelum memberikan layanan akuntansi forensik. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata (mean) pada TRAIN adalah 4.2215 dan p>0.05.

Kesimpulannya, akuntan forensik yang memiliki lima keahlian khusus akan mampu melaksanakan tugas-tugasnya yang berat. Penerapan pendidikan akuntansi forensik dipandang sebagai atribut penting untuk meningkatkan kesadaran tentang akuntansi forensik. Pelatihan profesional dan sertifikasi akuntansi forensik merupakan salah satu metode untuk meningkatkan pengetahuan dan keahlian akuntan forensik. Dengan demikian, penerapan tersebut akan meningkatkan lulusan akuntansi dengan kemampuan untuk mendeteksi dan mencegah kecurangan. Hal ini dapat dilihat dengan beberapa studi sebelumnya (Chi-Chi dan Ebimobowei 2012; Alabdullah et al. 2014; Temitope 2014) yang menunjukkan pentingnya ilmu forensik akuntansi dalam memerangi tindak kecurangan seperti korupsi.

Responden mungkin dipengaruhi oleh beberapa aspek yang mempengaruhi pandangan mereka untuk pentingnya akuntansi forensik di Indonesia. Ditengarai salah satu alasannya adalah karena akuntansi forensik belum banyak ditawarkan sebagai mata kuliah di tingkat sarjana pada perguruan tinggi di Indonesia.

Implikasi dan pembatasan

Informasi dan petunjuk berharga yang diberikan dalam studi ini mungkin dapat berguna bagi para pendidik, praktisi, pemerintah, pembuat kebijakan dan peraturan, pengacara serta pihak lain yang berhubungan dengan proses penerapan pendidikan akuntansi forensik. Juga pihak lain yang berkepentingan untuk pencegahan dan pendeteksian kecurangan atau kriminal lainnya.

Pembatasan dalam studi ini terdiri dari tiga aspek. Pertama, hasil dari studi ini didasarkan pada jawaban-jawaban kuesioner yang dikumpulkan, dan mungkin menjadi bias karena subjektivitas mahasiswa pasca-sarjana akuntansi. Kedua, para responden adalah mahasiswa pasca-sarjana akuntansi yang berpengalaman dibidang akuntansi dengan atau tanpa pendidikan sarjana akuntansi, akan tetapi dimungkinkan para responden tidak memiliki pengalaman atau paparan yang relevan dan berkaitan dengan akuntansi forensik. Ketiga, pada studi ini hanya terdapat enam pertanyaan dalam kuesioner, pertanyaan tersebut tidak diikuti dengan pertanyaan konfirmasi mengingat banyaknya pilihan dalam pertanyaan keahlian khusus akuntansi forensik.

Kecurangan adalah isu yang mendunia terutama pada negara-negara berkembang dengan kurangnya pelaksanaan akuntansi forensik. studi selanjutnya dapat berupa bagaimana cara mengukur perkenalan dan penerapan akuntansi forensik di suatu negara.

REFERENSI

  • Albrecht, WS, Albrecht, CO, Albrecht CC & Zimbelman MF 2012. Fraud Examination, 4th edn, South-Western, Cengage Learning, Mason, OH
  • Association of Certified Fraud Examiners 2012. Report to the nations on occupational fraud and abuse. http://www.acfe.com/ uploadedFiles/ACFE_Website/Content/rttn/2012-report-to- nations.pdf
  • Association of Certified Fraud Examiners 2014. Report to the nations on occupational fraud and abuse. http://www.acfe.com/rttn/docs/2014-report-to-nations.pdf
  • Astutie, PY & Utami, Y 2013. 'Characteristics and Relevant Skills of The Forensic Accountant: An Empirical Study on Indonesia'. In Proceeding of Annual International Conference on Accounting and Finance(AT), Bangkok, pp 122-127
  • Alabdullah, TTY, Alfadhl, MMA, Yahya, S & Rabi, AMA 2014. 'The Role of Forensic Accounting in Reducing Financial Corruption: A Study in Iraq'. International Journal of Businesses and Management. Vol 9, No 4, pp 26-34
  • Bangert. M 2013. 'A Real Professional'. Quality, Vol 52, No 4, pp. 41-43.
  • Bawaneh, SS 2011. 'Forensic Accountants in the Digital Age'. Interdisciplinary Journal of Contemporary Reasech in Business. Vol 3, No 3, pp. 75-86
  • Carpenter, TD, Durtschi, C & Gaynorm LM 2011. 'The Incremental Benefits of a Forensic Accounting Course on Skepticism and Fraud-Related Judgements'. Issues in Accounting Education. Vol 26, No 1, pp.1-21
  • Chi-chi, OA, Ebimobowei, A 2012. Fraudulent Activities and Forensic Accounting Services of Banks in Port Harcourt, Nigeria. Asian Journal of Business Management. Vol 4, No 2, pp. 124-129
  • Cowly, M 2010. 'Forensic Accountants 'Follow the Money'. Targeted News Service, 07 October
  • Davis, C. Farrell, R & Ogilby. 2010. Characteristics and Skills of the Forensic Accountant. American Institute of Certified Public Accounts, FVS Section
  • DiGabriele, JA 2011. 'Revisiting the Integration of Forensic Accounting and the Auditing Paradigm'. The Forensic Examiner. Vol 20, No 2 pp. 70-73
  • Gbegi, DO & Adebisi, JF 2014.'Forensic Accounting Skills and Techniques in Fraud Investigation in the Nigerian Public Sector'. Vol5, No 3, pp. 243-252
  • Henning, SL & Misuraca, Y 2013. 'Increased Regulation Drives Demand for Forensic Accounting Services. The Metropolitan Corporate Counsel, Vol 21, No 12. pp 19
  • Imoniana, JO, Antunes, MT, Formigoni, H 2013. 'The Forensic Accounting and Corporate Fraud'. Journal of Information Systems and Technology Management. Vol 10, No 1, pp119-144
  • Italia, M 2012. 'The Multi-Disciplined Skills Required of Forensic Accountants'. Journal of Modern Accounting and Auditing. Vol 8, No3, pp 365-373
  • Jackson, BWD, Ellis, Y, Jackson RDG 2013. 'Accounting Educators and Practicioners'Perspectives on Fraud and Forensic Topics in the Accounting Curriculum'. Journal of Legal, Ethical and Regulatory. Vol 16, No 2, pp 93-106
  • Johnson, H 2009. 'Follow the fraud wave to find the money trail'. Crain's New York Business. Vol 25, No 39, pp. 17
    Koklarova, B & Pauknerova, D 2013. 'Acquisition of Professional Knowledge: How Do Today's Postgraduates Learn?' European Scientific Journal. Vol 9, No 43, pp. 125-137
  • Kushniroff, M 2012. 'Forensic Accounting Demystified'. Journal on Global Science and Technology Forum Business Review, Vol 1, No 4, pp. 19-24
    Meier, HH, Kamath, RR, He, Y 2010. Courses on Forensics and Fraud Examination in the Accounting Curriculum. Journal of Leadership, Accountability and Ethics. Vol 8, No 1pp 25-33
  • Mukoro, D, Yamusa, O, & Faboyede, S 2013. 'The Role of Forensic Accountants in Fraud Detection and National Security in Nigeria'. Change and Leadership, Vol 17, pp 90-106
PENULIS: ANANTO PRABOWO
Tanri Abeng University, Indonesia
Tulisan ini telah dipublikasikan di JURNAL INTEGRITAS