• Beranda
  • Perpustakaan
  • Sarasehan
  • Metamorfosis Sandi Komunikasi Korupsi: Membedah Sandi Para Koruptor

Metamorfosis Sandi Komunikasi Korupsi: Membedah Sandi Para Koruptor

Apel Malang, Apel Washington, Uang Jenggot, dan Uang Gondrong, adalah beberapa kata sandi para koruptor yang merujuk pada uang suap. Penggunaan sandi tersebut tampaknya menjadi upaya untuk mengelabui para penegak hukum. Namun seringkali penggunaan sandi tersebut justru menimbulkan kecurigaan dan menghadapkan mereka ke meja hijau.

Metamorfosis Sandi Komunikasi Korupsi, adalah sebuah buku yang mengupas metamorfosa sandi-sandi yang digunakan koruptor dalam berkomunikasi. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis, Sabir Lahulu, selama menjadi jurnalis. Buku setebal 654 halaman ini mengulas sekitar 199 bahasa sandi yang berasal dari 23 kasus tindak pidana korupsi yang sudah inkracht. Sebagai sebuah kejahatan terorganisir, koruptor membutuhkan mekanisme komunikasi yang hanya bisa dipahami oleh pihak-pihak yang terkait. Sehingga buku ini mencoba memaparkan sandi-sandi yang dipergunakan dari sudut pandang komunikasi. Disamping itu, buku ini menambah sekian bukti bahwa korupsi tidak berdiri sendiri. Sehingga dalam memberantas korupsi dibutuhkan sinergi pengetahuan dari berbagai aspek.

Sarasehan pustaka ini diselenggarakan dalam rangka Hari Buku Nasional yang jatuh pada tanggal 17 Mei. Acara pada hari ini berlangsung meriah dengan jumlah peserta hampir 300 orang, yang terdiri dari pegawai KPK, wartawan, dan tamu undangan. Bertempat di auditorium KPK, hadir Febri Diansyah sebagai moderator, Effendi Gazali dan Hamdan Zoelva sebagai pendedah.

Alexander Marwata turut hadir dan memberikan sambutan. “Buku metamorfosis sandi komunikasi korupsi yang ditulis oleh Sabir Laluhu ini sangat menarik sekali, lebih detail, karena dibumbui dengan kejadian-kejadian di belakang sidang. Gaya kerjanya khas wartawan sehingga enak dibaca,” katanya.

Dalam kesempatan ini Sabir menjelaskan bahwa sandi-sandi yang digunakan oleh koruptor terus bermetamorfosa, oleh karena itu dibutuhkan keseriusan dari KPK untuk menerjemahkannya. “KPK juga harus bekerja sama dengan ahli komunikasi dan ahli Bahasa. Banyak digunakan sandi-sandi dalam Bahasa daerah, bahkan Bahasa asing” tambahnya.

Penggunaan sandi sebagai komunikasi koruptor tidak hanya terjadi di Indonesia, dalam bukunya Sabir juga menjabarkan sandi-sandi yang digunakan dalam kasus korupsi yang terjadi di lebih dari 15 negara. Para koruptor memahami bahwa setiap gerak-gerik mereka sedang diawasi. Sehingga sandi-sandi korupsi tersebut tampaknya diciptakan secara mendadak, tanpa melalui kompromi terlebih dahulu. Sandi yang digunakan biasanya berasal dari kata yang dekat dengan mereka. Sebagai contoh istilah ‘buah pinang’ yang digunakan mantan Bupati Biak Numfor, Papua, Yesaya Sombuk. Buah pinang adalah buah khas Papua yang sudah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat Papua. Sandi tersebut biasanya digunakan untuk mengganti kata uang, tempat, kegiatan, dan orang. Menariknya, sandi yang sudah masuk ke ruang persidangan umumnya akan digantikan dengan sandi-sandi lain. Hal itulah yang membuat metamorfosa sandi tidak akan pernah berhenti, melainkan akan terus berkembang dan mengikuti konteks jaman.

sarasehan sandi 02

Hal senada juga diungkapkan oleh Effendi Gazali, “metamorfosis tidak akan berhenti, sekali ketahuan, maka tidak akan digunakan lagi.” Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa sandi korupsi dapat bermertafosa sampai ke hal-hal yang tidak terbayangkan. “Dan yang paling agak berbahaya dan juga membuat kita seharusnya marah adalah istilah-istilah seperti ini, yaitu santri artinya utusan, murtad artinya menyimpang dari perjanjian sebelumnya, Kiai artinya pejabat kementerian agama, yang lebih kacau lagi ini kalau pengajian artinya tender atau lelang” tambahnya.

Dalam beberapa kejadian, sandi yang digunakan begitu mencolok dan mampu menimbulkan kecurigaan, namun sering kali sandi tersebut tersamarkan sehingga tampak menjadi sebuah kata yang tidak memiliki arti tersembunyi. Oleh karena itu, kehadiran buku ini diharapkan dapat memberikan gambaran terkait pola-pola sandi korupsi yang sering digunakan dan metamorfosa dari sandi tersebut.