Inisiatif Masyarakat untuk Pendidikan Antikorupsi

Sebagai bagian pengadaan barang dan jasa, sejarah lelang diwarnai tragedi pembunuhan Pertinax pada 193 AD. Kekaisaran dilelang, prinsip keadilan dan keterbukaan diterapkan.

Publius Helvius Pertinax adalah tragedi. Setelah menggulingkan Kaisar Commodus, Pertinax ganti dibunuh Praetorian Guard, yang notabene adalah pasukan elit pengawalnya sendiri. Hanya menduduki tahta selama 86 hari, Pertinax pun tercatat sebagai kaisar tersingkat dalam era Kekaisaran Romawi.

Guna mencari pengganti Pertinax, Praetorian Guard menawarkan kekaisaran kepada masyarakat. Melalui mekanisme lelang, penawaran dilakukan secara terbuka, siapapun berhak mengikuti. Semua boleh mengajukan harga tertinggi, tak ada yang ditutup-tutupi.

Lelang itu, akhirnya dimenangkan Didius Severus Julianus, seorang senator tua nan kaya. Dengan penawaran tertinggi, yakni 6.250 drachmas per prajurit, Didius pun berhak menjadi kaisar Romawi baru. Dinasti kekaisaranpun berpindah, dari Antoninus ke Severanus.

Sepanjang sejarah Kekaisaran Romawi, lelang ala Praetorian Guard memang menjadi catatan paling penting. Dampaknya hingga menyebabkan perang saudara. Ketika itu, Marcus pernah menjual aset milik debitor yang disita sebagai jaminan hutang.

Begitu pun, lelang tetaplah lelang. Seperti apapun kondisinya, keterbukaan untuk umum dan adu harga, tetap menjadi salah satu cirinya. Tidak hanya lelang ala Praetorian Guard atau Marcus Aurelius, namun juga kegiatan serupa di berbagai tempat lain. Termasuk di antaranya, The Marriage Market pada abad ke-5 SM di Babilonia, lelang budak yang dilakukan pedagang Belanda pada abad ke-17 di Jamestown, dan di Charleston, South Carolina.

Begitu pula saat ini, 19 abad sesuai tragedi Pertinax, proses lelang masih dikenal. Selain tetap dipergunakan untuk arti pelelangan secara umum (auction), istilah lelang juga kerap dikaitkan dengan tender atau proses pengadaan barang dan jasa (tander). Bahkan, menurut Perpres Nomor 53 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, pelelangan merupakan salah satu metode pengadaan barang dan jasa. Metode lain adalah pemilihan langsung, seleksi umum, sayembara, penunjukan langsung, dan pengadaan langsung.

Tetapi apapun, prinsip keterbukaan dan keadilan tetap harus diutamakan. Pemenang pengadaan barang dan jasa, misalnya, adalah mereka yang memang memiliki kemampuan dan penawaran paling bersaing.

Download Now
193